KOMPI+25

Komunitas Pendidikan Indonesia

Jaringan Komunikasi KOMUNITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Monday, 10 June 2019

Prinsip untuk Kebebasan Intelektual

Charles Chu, Editor The Polymath Project ( @ http://thepolymathproject.com), menjadikan adegan-adegan dari kehidupan ilmuwan James Lovelock untuk mengilustrasikan beberapa prinsip untuk mengejar kehidupan kebebasan intelektual. Charles Chu, menyelesaikan bukunya A Rough Ride to the Future, yang merupakan perpaduan antara otobiografi, teori, dan visi masa depan yang menarik. Bagian dari buku ini adalah otobiografi, dan - dalam esai ini - saya ingin melihat pengorbanan dan pilihan yang dibuat Lovelock untuk mengejar hidupnya sebagai seorang ilmuwan dan penemu yang mandiri, mandiri dan penemu.

“Tidak seperti biasanya untuk penduduk pinggiran kota di AS, Sandy [istrinya] dan saya tidak punya mobil, dan kami berjalan setiap hari sejauh empat mil ke dan dari pusat perbelanjaan, membawa pulang barang-barang belanjaan di ransel kami. Untuk beberapa perjalanan kota yang lebih panjang, kami menyebutnya taksi. Tidak ada kesulitan untuk menjalani kehidupan seperti ini, dan sangat rendahnya kepadatan perumahan di pinggiran kota ini sehingga jalan-jalan harian kami ke toko-toko memiliki kualitas jalan-jalan pedesaan, kaya akan margasatwa dan kicau burung. Kami termotivasi oleh keinginan untuk tetap sehat dan menikmati kehidupan yang terjangkau. " [Lovelock]

Ada banyak hal yang disukai tentang kebebasan ini - tidak ada bos, tidak ada dokumen, tidak ada birokrasi yang mengganggu untuk dihadapi. Namun, ia datang dengan kerugian - Anda tidak dibayar untuk bekerja. Namun, Lovelock berhasil tanpa hibah atau amal lainnya:

“Tidak ada yang aneh tentang cara hidup ini, tetapi itu berbeda dari kebanyakan profesional karena sebagian besar penghasilan saya digunakan untuk ilmu yang saya lakukan daripada untuk meningkatkan standar hidup yang dinikmati oleh saya dan istri saya. Saya membidik ke arah ekonomi maksimum dan tidak melihat gunanya membeli peralatan mahal, karena saya tahu bahwa alat semacam itu (bahkan ketika dikatakan sebagai yang terbaru) mungkin sepuluh tahun kedaluwarsa. ” [Lovelock]

Di tempat lain, ia menambahkan:
“Saya segera menemukan bahwa kehidupan seorang penemu-ilmuwan tunggal adalah seperti seorang seniman atau komposer musik. Penghasilan sangat penting tidak hanya untuk hidup tetapi juga untuk mempertahankan laboratorium, dan ini bisa sangat mahal. Karena itu perlu untuk bekerja untuk setidaknya tiga penyedia secara bersamaan dan melakukan pekerjaan nyata Anda di waktu luang Anda. Bekerja untuk penyedia tunggal, tidak peduli seberapa murah hati, hanya untuk menjadi orang yang dibeli kembali, seorang karyawan, dan ini bukan kemerdekaan. Saya stabil dengan sekitar lima penyedia yang saya jawab ketika ditanya. Bahkan dengan lima pelanggan atau penyedia, hidup sangat mudah dan menyisakan banyak waktu untuk memikirkan pekerjaan sendiri ... "[Lovelock]

Terlebih lagi, para ilmuwan yang sendirian kurang terlindung dari efek tindakan mereka. Namun, Anda dapat melihat ini sebagai hal yang baik karena Anda belajar lebih cepat dengan cara ini - cara hidup Anda memaksa Anda untuk menghadapi, dan tumbuh dari, kegagalan Anda:

: “… Menjadi penyendiri memberikan kebebasan yang luar biasa untuk membuat kesalahan dan kemudian belajar darinya; jarang sekali ilmuwan korporat memiliki kebebasan ini, dan kesalahan yang paling mengerikan sering kali dilakukan oleh organisasi besar yang anggotanya tidak dapat mengakui kesalahan mereka. Lebih buruk adalah kecenderungan manusia dari tim atau suku untuk menutupi kesalahan dan melindungi anggota yang membuatnya. Kesepian segera menemukan bahwa tidak ada orang yang menutupi kesalahan mereka; diperlukan beberapa tahun sebelum kita menyadari bahwa ini adalah harga kebebasan, tetapi bagi sebagian dari kita, harga yang layak dibayar. ” [Lovelock]

Beberapa Prinsip.

Ini mungkin berharga jika Anda ingin menambahkan lebih banyak kebebasan - atau waktu untuk melakukan apa yang penting - dalam hidup Anda. Inilah harga kebebasan lain - dalam arti non-ekonomi.

Diversifikasi.
Satu masalah dengan pekerjaan adalah bahwa sangat, sangat sulit untuk mengatakan ‘tidak’ kepada atasan Anda. Jika ada pekerjaan yang tidak ingin Anda lakukan - atau bertentangan dengan etika - kebanyakan orang tidak akan mengatakan tidak. Terlalu menakutkan untuk mengambil risiko kehilangan satu-satunya sumber penghasilan Anda.

Lovelock menemukan stabilitas dengan sekitar lima sumber pendapatan terpisah. Artinya, Anda dapat mengatakan "FU" ke salah satu sumber dengan hanya 20% penurunan pendapatan (dengan asumsi mereka membayar Anda dengan setara).

Saya dan istri saya melakukan hal serupa. Di antara kami, kami memiliki 5-6 sumber pendapatan. Saya menulis, tetapi saya juga sesekali mengerjakan pekerjaan penerjemahan lepas. Kami juga memulai bisnis kecil baru-baru ini, dan istri saya memiliki beberapa pekerjaan paruh waktu yang dia lakukan 1-2 kali seminggu. (Impian lama saya untuk akhirnya adalah melakukan beberapa pekerjaan sebagai sarjana independen).

Dalam salah satu buku Jared Diamond ia menyebutkan bahwa, ketika mempelajari masyarakat tradisional, ia menemukan bahwa mereka akan menanam tanaman mereka di beberapa lokasi yang berjarak jauh. Seorang ekonom akan menyebut ini tidak efisien, tetapi apa yang dilakukannya adalah melindungi Anda dari bencana (semua tanaman Anda sekarat sekaligus) dengan imbalan penurunan efisiensi.

Hal yang paling "optimal" untuk dilakukan mungkin sebenarnya adalah biasa-biasa saja karena terlalu spesialis untuk hari ini dapat berarti bahwa Anda kurang spesialis untuk masa depan ....

Tetap kecil.

Bisa juga melihat bahwa Lovelock menjalani kehidupan yang tenang dan hemat bersama istrinya. Belajar bagaimana tetap kecil & hidup hemat adalah keterampilan yang berharga karena peningkatan pengeluaran cenderung menderita gaya hidup yang merayap - Anda membeli, memiliki, dan mengkonsumsi lebih banyak barang, tetapi hanya ada efek minimal pada jangka panjang kualitas hidup Anda.

Dengan menolak creep gaya hidup, Lovelock mampu mengalihkan sumber daya ini ke penelitiannya. Ini memungkinkannya menemukan dan melakukan sains tanpa dukungan birokrasi, pendanaan negara, bos yang menyebalkan, dll.

Selain itu, tetap kecil berarti Anda bisa bekerja lebih sedikit selama beberapa jam dan masih punya banyak waktu untuk fokus pada "pekerjaan nyata" Anda.

Istri saya dan saya sebenarnya tinggal di apartemen satu kamar di Jepang. Selain dari situasi "langkah satu sama lain" yang minor, saya sama sekali tidak merasa sulit. Kami mungkin akan pindah ke suatu tempat yang lebih besar pada akhirnya, tetapi saya tidak percaya bahwa kualitas hidup kami akan meningkat jauh dari tempat yang lebih besar.

Sebagai seseorang yang cenderung terobsesi dengan apa pun yang ia lakukan dalam hidup - video game, gym, membaca, menulis, dll. - Saya menyadari bahwa menolak keinginan untuk mengoptimalkan adalah keterampilan. Melakukan terlalu banyak sesuatu yang bisa lebih buruk daripada tidak cukup - yang terkait dengan ide ini untuk tetap kecil.

Menjadi terampil membantu.

Lovelock dapat melakukan ini karena ada pasar untuk penemuannya dan keterampilannya dihargai. Ini jauh lebih sulit jika Anda tidak memiliki keterampilan dan gelar dalam sejarah atau sesuatu dan tidak dapat melakukan pekerjaan kontrak yang berubah menjadi mata uang.

Biarkan kesalahan Anda menyakiti Anda. Saya pikir kecenderungan alami kita adalah melindungi diri kita dari kesalahan kita sendiri, tetapi jika tujuan Anda menentukannya, mungkin ada baiknya untuk menempatkan diri Anda dalam situasi di mana tujuan Anda menyakiti Anda. Anda akan belajar lebih cepat dalam prosesnya. (Ini adalah ide besar dari buku baru Nassim Taleb.)

Apakah Anda masih akan melakukannya di usia 95 thn? Satu cara untuk menguji apakah Anda menyukai apa yang Anda lakukan adalah dengan mengambil semua insentif lain - uang, status, dll. - keluar dari persamaan dan lihat apakah Anda masih melakukan sesuatu. Lovelock mungkin dulu sudah pensiun, tapi dia masih melakukan hal ini pada usia hampir 100 tahun. Salut!.

Itu hanya gagasan buram pada 10-20 tahun yang lalu, tapi ini mungkin alasan lain mengapa saya menemukan buku Lovelock's begitu menarik. James Lovelock adalah seorang ilmuwan independen dan yang memberi banyak alasan untuk menemukan inspirasi. Dia hadir dengan hipotesis Gaia, yang mengusulkan bahwa Bumi adalah sistem organik yang mengatur diri sendiri. Hal ini banyak dikritik dari semua pihak pada saat itu, tetapi Lovelock terus mendorong gagasan itu dan akhirnya masuk ke pemikiran umum. Dia telah melakukan karya asli di sejumlah bidang yang menakjubkan, termasuk kedokteran, eksplorasi ruang angkasa (di NASA), ilmu iklim, dan penelitian nuklir. Sebagai seorang ilmuwan tunggal, ia adalah orang pertama yang mengidentifikasi CFC di atmosfer dan hampir saja menjatuhkan sebuah kerajaan yang merusak lapisan ozon. Di usianya yang ke 98 tahun, dia masih menciptakan banyak hal dan masih melakukan sains.

Semoga Anda menikmati kebebasan intelektual seperti itu.


sumber : medium.com

Sunday, 16 September 2018

Menyusuri Hari Anak Nasional 2018, Nyawa Pelajar Masih Menjadi Taruhan Dalam Tawuran Maut


Jumat (14/9/2018) tragedi berdarah tawuran pelajar di Jalan Raya Jakarta - Bogor di depan Rumah Sakit Trimitra, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, sekira pukul 16.30 WIB, menewaskan seorang siswa SMP setelah terkena sabetan benda tajam itu terjadi. Korban bernama Yuda dan merupakan siswa kelas 7 SMP PGRI 1 Cirimekar, sempat dilarikan ke Rumah Sakit Trimitra Cibinong, namun nyawanya tak tertolong.
Kamis (13/9/2018) Tawuran pelajar antara SMK Bina Pendidikan Gunung Putri dengan SMK Pijar Alam Cileungsi mengakibatkan, satu pelajar SMK Pijar Alam berinisial SP (14) Meninggal dunia akibat luka bacok di dada. Setelah berhasil membekuk 18 pelaku yang masih berstatus pelajar dari SMK Bina Pendidikan Cileungsi, Kepolisian meminta Dinas Pendidikan untuk duduk bersama-sama dengan memanggil para guru, orang tua dan masyarakat untuk bersama-sama mengantisipasi masalah tawuran pelajar itu. Apabila tawuran itu masih berulang-ulang, maka Kepolisian akan rekomendasikan kepada Dinas Pendidikan agar sekolah tersebut dievaluasi atau dicabut.

Sabtu dini hari (1/9/2018) tawuran pelajar antar SMA di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menyebabkan satu pelajar atas nama Ari Haryanto (16) meregang nyawa. I diduga menjadi otak tawuran tersebut. I yang memulai komunikasi dengan para pelaku, termasuk korban dan juga mengajak teman-teman lainnya. I berhasil membuat kedua belah pihak sepakat bertemu di titik pertemuan yang akhirnya menjadi lokasi Ari meninggal dunia. Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar, di Mapolda Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2018) menjelaskan Ari Hariyanto meninggal dunia usai dikeroyok sejumlah pelajar dari sekolah berbeda saat tawuran di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tawuran dua kelompok pelajar beda SMA itu pecah karena ulah alumnus salah satu sekolah yang bertikai. Mereka sudah menunggu dan memang lewat WA mereka janjian, bertemu di tempat itu. Pada saat turun, karena sudah ditunggu, terjadi keributan, kelompok korban coba melarikan diri, korban pun coba melarikan diri dengan sepeda motor namun jatuh hingga akhirnya dikeroyok akibatnya korban meninggal di tempat kejadian. Warga sekitar dan rekan-rekannya berusaha menyelamatkan dengan membawa ke rumah sakit. Namun nyawa Ari tak tertolong usai dibacok.

Senin (13/8/2018) malam tawuran pelajar terjadi di Jalan Mayjen Sutoyo, Kebon Pala, Makasar, tepatnya di jembatan depan Kodam Jakarta Timur. Seorang pelajar SMK Rahayu Mulyo bernama Fathurosi Delpiero (18) tewas dalam saat tawuran dengan SMK Respati. Korban meninggal dunia dengan luka bacok di bagian paha sebelah kiri dan dibawa ke RS Polri. Polisi telah memeriksa dua orang saksi bernama Bagus dan Gus Rizal. Belum diketahui apa pemicu tawuran, sementara polisi akan berjaga-jaga di sekitar lokasi biar tak kembali terjadi tawuran.

Kamis 30 Agustus 2018 lalu tawuran antar pelajar di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat terjadi. Rio (15) siswa SMK Tri Arga 2, tewas bersimbah darah. Polisi menemukan jenazah Rio dengan kondisi luka bacok di sekujur tubuhnya. Polisi menangkap Fuad di hadapan keluarga di rumahnya Kamis 6 September 2018. Pria yang berprofesi sebagai ojek online itu tak berkutik dan mengakui dirinya membacok Rio lantaran solidaritas pertemanan. Pelaku itu alumni salah satu sekolah, yang musuh mereka adalah siswa Tri Arga. Fuad mengaku kerap diminta teman temannya untuk tawuran. Hal ini terlihat dengan banyaknya luka sayatan dan sabetan di tangan dan badannya.

Rabu (29/8/2018) malam, sekitar pukul 19.00 WIB, 91 pelajar yang berasal dari tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Tangerang diciduk jajaran Polsek Jatiuwung. Mereka diamankan setelah gagal melakukan aksi tawuran ke salah satu SMK di Balaraja. Pengamanan terhadap 91 pelajar SMK di Kota Tangerang, (SMK Yupentek 68, SMK 4, SMK 2 Kota Tangerang) ini bermula dari laporan sopir ojek online yang melihat adanya gerombolan pelajar dengan senjata tajam di kawasan Jalan Raya Jatiuwung.

Sementara, Kapolsek Cipondoh Kompol Sutrisno mengatakan, peristiwa tawuran di Jalan Hasyim Ashari Cipondoh sempat terjadi antara dua kelompok pelajar SMK Darma Bhakti dan SMA Yasir. Dua pelajar SMA MF (17) dan MA (17) kedapatan membawa senjata tajam jenis parang dan gergaji besar hasil modifikasi. Mulanya, para pelajar yang diketahui berjumlah 15 orang itu mendatangi SMA Yasir dengan melakukan pelemparan batu ke sekolah. Dari peristiwa itu, kemudian dua pelajar yang diamankan itu menyebarkan ajakan tawuran ke media sosial. Tawuran ini diawali ketidakpuasan kelompok pelajar, karena salah satu rekan mereka dikeroyok pelajar dari SMA Yasir yang mereka datangi. Dari situ mereka merencanakan untuk tawuran di sekitar hotel Narita dan kami berhasil mengamankan dua pelaku yang kedapatan membawa sajam. Dua kelompok pelajar itu terlibat saling serang menggunakan senjata tajam.

Sejak Minggu (26/8/2018), video perkelahian antara FM dan SL menjadi viral di media social. Dari video itu sejumlah media massa memberitakan perkelahian dua siswi yang mengenakan pakaian olahraga SMPN 2 Tanjungpinang dan disaksikan puluhan pelajar. Dalam video itu, tidak tampak ada yang memisahkan atau mendamaikan perkelahian. Sejumlah siswa yang menyaksikan perkelahian itu justu tertawa terbahak-bahak, dan ada juga yang bersikap seperti seorang pelatih tinju yang mengarahkan salah seorang siswi. Kepala Dinas Pendidikan Tanjungpinang, Dadang AG mengatakan menyayangkan terjadi peristiwa itu. Seharusnya, siswa lainnya melerai perkelahian itu, bukan malah menyaksikan dan merekamnya. 36 pelajar SMPN 2 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang menyaksikan perkelahian (Sabtu,25/8/2018), rekannya kelas IX berinsiial FM dan SL akhirnya diskors pihak sekolah selama 3 hari. Sedangkan dua pelajar lainnya yang merekam perkelahian tersebut diskors selama 5 hari. FM dan SL diskors selama 6 hari. Disdik Tanjungpinang juga melibatkan psikolog dan Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pelayanan Perempuan dan Anak selama dilaksanakan sanksi isolasi.

Kamis (16/8/2018) lalu 5 pelajar SMK Pijar Alam Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi terlibat tawuran dengan sekelompok pelajar dari sekolah lain di Jalan Raya Sumur Batu, Bantar Gebang. Korban meninggal atas nama Indra Permana, sedangkan dua orang temannya Aliansyah dan Maulana Dwi Putra mengalami luka akibat senjata tajam. Tawuran itu pecah di Jalan Raya Sumur Batu, Bantar Gebang setelah dua kelompok pelajar janjian melalui pesan singkat. Motif tawuran hanya masalah sepele yaitu karena saling ejek. Kelompok tersangka berkumpul lebih dulu di kediaman tersangka RP. Di sana mereka mempersiapkan senjata tajam berupa lima celurit, dan stik golf yang diruncingkan. Berbekal senjata itu, para tersangka bergerak ke lokasi kejadian kemudian tawuran.

Kamis (16/8) petang sekitar Pukul 17.30 WIB. dua kelompok pelajar dari SMK Jaya Beka 2 dan SMK Bina Karya Karawang terlibat tawuran. Seorang pelajar terkena sabetan samurai terkapar di tengah jalan dengan kondisi bercucuran darah. Korban mengalami luka bacok di daerah pelipis kanan, leher dan punggung sekitar 38 jahitan Pelajar itu dapat diselamatkan setelah warga di sekitar lokasi membawanya ke Rumah Sakit Rosela Karawang Barat. Tawuran bermula saat rombongan pelajar SMK Jaya Beka 2 tengah konvoi sepulang dari sekolah. Setibanya di Jalan Interchange Karawang Barat dicegat sekelompok pelajar dari SMK Bina Karya dan tawuran tak terelakan. Kubu pelajar SMK Jaya Beka 2 dikejar hingga akhirnya berhasil dihentikan oleh kelompok siswa SMK Bina Karya Padahal waktu itu kondisi jalan Interchange sedang padat oleh kendaraan. Seorang saksi di lokasi, Subarjo mengatakan, tawuran antar pelajar kerap terjadi di wilayah tersebut. Bahkan saat jam pelajaran sekolah sekalipun. Tak heran, banyak di antara warga yang mengaku geram dengan aksi generasi muda terpelajar itu karena dianggap meresahkan.

Senin (13/8/2018) sore, aksi tawuran antar dua kelompok pelajar di Depok, Jawa Barat, terekam kamera pengawas terjadi di Perumahan Bukit Rivaria Sawangan Depok. Tawuran itu melibatkan pelajar SMK swasta di Pancoran Mas, dengan pelajar dari SMK negeri di Sawangan. Dari rekaman CCTV terlihat beberapa pelajar yang masih mengenakan seragam membawa senjata tajam. Kapolsek Sawangan, Kompol Suprasetyo mengatakan, setelah mendapatkan informasi dari masyarakat terkait tawuran tersebut, 16 pelajar diamankan diduga terlibat dalam aksi tawuran tersebut. 2 di antaranya wanita masih menggunakan seragam, dibantu anggota Jaguar langsung dibawa ke Polsek Sawangan malam harinya. Masing-masing anak dipanggil orang tuanya ke Polsek Sawangan dan membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan yang sama.

Pada (31/7/2018) pelajar SMK Bhipuri terlibat dalam aksi tawuran dengan pelajar SMK Sasmita Jaya I Pamulang. AF (18) pelajar SMK Sasmita Jaya I Pamulang mengalami luka di bagian wajah kiri yang disebabkan FF (16) pelajar SMK Bhipuri Serpong, Tangerang Selatan sebagai tersangka penusukan. Tawuran pelajar itu terjadi di Jalan Raya Puspitek, Kecamatan Setu, depan SPBU Kademangan, setelah siswa SMK Bhipuri Serpong dan siswa SMK Sasmita Jaya janjian di medsos akan tawuran dan sudah siap membawa aneka sajam. Tawuran itu terjadi akibat dendam lama dan sudah diatur sebelumnya. Setelah sempat menjalani 11 hari masa observasi dan tiga kali operasi pengangkatan senjata tajam dari wajah, Selasa (7/8/2018) akhirnya AF (18), menghembuskan napas terakhirnya di RSCM Jakarta. Di tahun 2018, sudah ada sekitar 85 kasus kekerasan anak di Tangsel.

Satreskrim Polresta Bogor Kota, Polda Jawa Barat, mencatat tawuran hingga menimbulkan korban jiwa terjadi kedua kali di bulan Juli 2018. Korban meninggal berinisal RIF, meninggal dunia Minggu (15/7/2018), setelah terlibat perkelahian antar kelompok yang sama-sama masih pelajar di Jl Ahmad Yani, Kota Bogor. Korban kedua terlibat tawuran, Selasa malam yang terjadi di belakang Terminal Bubulak. Polresta Bogor Kota juga mengungkap kasus tawuran di belakang Terminal Bubulak, Bogor, yang menewaskan seorang pelajar SMP merupakan kejadian terencana. Kasus tawuran itu bukan kejadian biasa, tetapi disiapkan dan direncanakan layaknya gladiator yang sempat heboh tahun 2017 lalu. Kasus tawuran itu melibatkan sembilan anak di bawah umur, korban meninggal dunia dengan inisial MIS usia 13 tahun, satu korban koma masih dirawat di rumah sakit, dua pelaku DPO, lima diamankan.


Tawuran atau aksi saling serang yang mereka lakukan sudah menjadi tradisi antarsekolah. Mereka menamakannya 'Acara yang diadakan alumni dari masing-masing SMP itu". Tawuran ala 'Acara' itu melibatkan salah satu SMP di wilayah Dramaga dan Cibungbulang. Polanya, alumni menyiapkan adik kelas atau siapa saja yang akan diadu sekolah lawan, dengan format tiga lawan tiga. Dalam Acara tersebut, ada tiga orang yang saling berkelahi, ada yang menyiapkan senjata tajam, ada juga sebagai promotor dan ada yang merekam atau memvideokan kejadian. Dulunya mereka tidak menggunakan senjata tajam. Kali ini, mereka pakai senjata tajam dengan kode (kata sandi) ada barang. Selain menggunakan senjata tajam, tradisi buruk itu juga direkam oleh kakak kelas yang rencananya akan dipublikasi di jaringan sosial YouTube sebagai ajang pamer kekuatan dengan tanda pagar tawuran.

Ini tragedi di hari anak nasional. Di saat banyak anak sedang menyalurkan energi positifnya, malah tawuran maut dipertarungkan. Anak-anak sebagai korban. Tawuran yang marak terjadi pada pelajar bukan tanpa sebab, baik sebab ekternal maupun internal. Untuk itu, perlu dilakukan penanganan serius, bukan hanya polisi, sekolah, dan pemerintah. Tetapi juga masyarakat, sehingga jika ada indikasi akan terjadi tawuran, masyarakat bisa melakukan upaya pencegahan.


Sumber :

Tuesday, 4 September 2018

Catatan Menarik Dari Asian Games 2018


Minggu tanggal 2 September 2018, Asian Games #18, berakhir dengan penuh kejutan. Dari 15 hari penyelenggaraan Asian Games edisi ke-18, hari ini cabang olahraga atletik di nomor triatlon campuran di Jakabaring Sport City menjadi laga pamungkas. Kontingen China Negeri Tirai Bambu resmi menjadi juara umum Asian Games 2018 setelah menempati peringkat pertama dalam klasemen akhir perolehan medali, dengan rincian: 132 medali emas, 92 perak, dan 65 perunggu. Itu merupakan juara umum ke-10 secara berturutturut bagi China secara sejak kali pertama meraihnya pada Asian Games 1982 di New Delhi, India.

Tim Merah Putih Indonesia yang menjadi tuan rumah juga tak ketinggalan mencetak rekor mengangumkan karena melebihi target yang dicanangkan pemerintah. Tim Nusantara Indonesia berhasil mencapai perolehan tertinggi selama mengikuti Asian Games yaitu menempati peringkat keempat dengan 98 medali: 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Yang membanggakan adalah Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang berada di peringkat 10 besar.

Hanya Thailand negara ASEAN yang memiliki posisi tertinggi di klasemen medali setelah Indonesia. Tim Negeri Gajah Putih itu berada di posisi ke-12 dengan 73 medali: 11 emas, 16 perak dan 46 perunggu.

Sayangnya, dari total 46 peserta Asian Games 2018 termasuk Korea Bersatu, ada delapan negara yang tidak mendapat medali emas. Kedelapan negara itu adalah: Tajikistan, Laos, Turkmenistan, Nepal, Pakistan, Afganistan, Myanmar, dan Suriah. Suriah menjadi penutup klasemen akhir  Asian Games kali ini, dengan meraih 1 perunggu dari cabor atletik di nomor loncat tinggi putra.

Sementara itu, dari seluruh kontestan Asian Games 2018, ada delapan negara yang gagal mendapatkan medali.

Dalam arena Asian Games kali ini, ada lima Negara yang memecahkan rekor medali emas di Jakarta-Palembang yaitu Bahrain merebut 12 medali emas, memecahkan rekor sembilan medali emas di 2014. Kamboja merebut dua medali emas, dua kali lipat dari edisi 2014. Indonesia merebur 31 emas, melewati rekor 11 medali emas di tahun 1962. Kirgistan meraih dua medali emas, usai meraih satu medali emas di 2002 dan 2010. Uzbekistan meraih 21 emas, melewati rekor mereka yakni 15 emas di 2002.


Bunga Nyimas (Indonesia) dinobatkan menjadi peraih medali termuda di Asian Games 2018. Dia meraih emas di cabor skateboard nomor street event putri pada umur 12 tahun 138 hari. Padahal, Zhang Minjie (China) pernah dinobatkan menjadi peraih medali emas termuda, ketika di hari ulangtahun ke-14 dia memenangi nomor menyelam sikronisasi 10 meter.

Sebaliknya, peraih medali tertua di Asian Games 2018 adalah Bambang Hartono (Indonesia) di umur 78 tahun pada cabor bridge nomor super team campuran dengan meraih medali perunggu. Sedangkan Pranab Bardhan (India) adalah peraih medali emas tertua di Asian Games kali ini dengan memenangi nomor beregu bridge putra cabor Bridge.

Meskipun sempat ada beberapa masalah dalam pelaksanaannya, pada akhirnya Asian Games 2018 ternyata mendapat pujian yang tak sedikit. Salah satu hal yang menggelitik adalah pengibaran bendera Cina. Sebelum penutupan Asian Games dimulai, tersebar peringatan di media sosial dan pesan berantai di aplikasi chat bahwa dalam upacara penutupan akan ada pengibaran bendera Cina, yang dikhawatirkan akan dipakai oleh oposisi untuk mengembuskan isu dominasi Cina.

Berikut Catatan Menarik Dari Sukses Indonesia sepanjang pelaksanaan Asian Games 2018.

1. Asian Games Pertama Yang Berlangsung Di 2 Kota.

Pada 17 edisi sebelumnya, Asian Games hanya digelar di satu kota. Tetapi pada Asian Games edisi ke 18 tahun 2018 ini Asian Games pertama kali berlangsung di dua kota yaitu di Jakarta dan di Palembang.

2. Medali Terbanyak Sepanjang Sejarah.

Setelah menjadi tuan rumah pada tahun 1962, Indonesia kembali menjadi tuan rumah pada Asian Games 2018, setelah Vietnam mengundurkan diri sebagai tuan rumah karena mengalami krisis ekonomi. Menjadi tuan rumah untuk kali kedua, Indonesia berhasil mencetak prestasi dalam beberapa cabang olahraga pada pesta olahraga empat tahunan negara-negara Asia ini. Kontingen Indonesia bahkan mencatatkan tinta emas pada Asian Games 2018 dengan meraih medali terbanyak sepanjang masa. Indonesia secara keseluruhan meraup 98 keping medali pada Asian Games 2018, yaitu 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Medali emas terbanyak diperoleh Tim Pencak silat kontingen Indonesia dengan raihan 14 medali emas dan satu perunggu. Tetapi, dengan sebaran raihan medali yang banyak tersebut, Indonesia hanya menduduki peringkat keempat di Asian Games 2018, sedangkan pada Asian Games 1962 di Jakarta, Tim Merah Putih Nusantara pernah berada di peringkat kedua.


3. Pondasi yang Bagus untuk Wacana Indonesia Gelar Olimpiade 2032

Presiden International Olympic Committee, Thomas Bach, (BolaSport.com di Senayan, Jakarta, Minggu, 2/9/2018) menilai penyelenggaraan Asian Games 2018 adalah pondasi yang solid. Kiprah Indonesia selama Asian Games 2018 baik. Indonesia layak bangga atas Asian Games 2018 di berbagai aspek. Penampilan atlet Indonesia juga melebihi ekspektasi. Indonesia menunjukkan kemampuan bekerja dengan efisien dan ramah. Pelaksanaan Asian Games 2018 sudah cukup jadi pondasi solid jika Indonesia mau mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2032. Asian Games 2018 sudah jadi dasar yang bagus untuk Indonesia kalau ingin jadi tuan rumah Olimpiade. Negara Indonesia sudah membuktikan bisa menyelenggarakan turnamen besar. Gunakan warisan Asian Games 2018 ini untuk mempertahankan momentum dan menghubungkan masyarakat dengan olahraga, serta memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia untuk menjaga kompetisi olahraga terbesar sejagat itu.

4. Indonesia Mampu melewati Target.

Kontingen Indonesia berhasil melampaui target yang ditetapkan Pemeritah melalui KEMENPORA, yaitu menargetkan raihan 16 medali emas dan masuk peringkat 10 besar. Faktanya, Tim Merah Putih Nusantara  berada di peringkat keempat dengan mengumpulkan 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu, atau total 98 medali. Sebelumnya, Indonesia.
Dibandingkan dari jumlah perolehan medali emas Asian Games 2018, Kontingen Indonesia saat ini menjadi yang terbaik sejak edisi pertama di New Delhi pada 1951. Raihan 31 medali emas delapan kali lipat lebih banyak ketimbang pencapaian kontingen Indonesia pada Asian Games 2014 di Incheon. Hasil tersebut membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara yang berhasil mengakhiri Asian Games 2018 di posisi 10 besar.

5. Cabor Lahan Keberuntungan Kontingen Indonesia

Tim Merah Putih meraih keuntungan dari 9 cabor baru yaitu : bridge, jestki, ju-jitsu, kurash, paragliding, pencak silat, sambo, skateboard, dan panjat tebing. Selain itu, Kontingen Indonesia merebut 20 medali emas dari 61 medali yang tersedia di seluruh cabor tersebut, paling banyak di antara kontingen lain. Indonesia dominan di Pencak silat dengan 14 emas dari 16 yang dipertandingkan.
Lima hal yang jadi pembicaraan di sekitar upacara penutupan Asian Games 2018 termasuk pengibaran bendera Cina dan keputusan Presiden Joko Widodo untuk menonton bersama korban gempa di Lombok.

6. Banjir Pujian

Melalui Twitternya, Perdana Menteri India Narendra Modi mengucapkan selamat kepada rakyat Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 yang tak terlupakan. Kolumnis South China Morning Post menilai pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang layak jadi kota kandidat Olimpiade. Meski ada kekhawatiran tentang polusi udara, kemacetan, dan fakta bahwa Indonesia cuma punya waktu tiga tahun untuk persiapan, Jakarta dan Palembang bisa bangga dengan karya mereka, demikian tulisnya dalam artikel ini.

Presiden Dewan Olimpiade Asia, Olympic Council of Asia Ahmad, OCA, Al-Fahad Al-Ahmed Al-Sabah pun memuji Indonesia dalam pidatonya di acara penutupan.

"Langit pun menangis karena sangat sedih, kami harus meninggalkan negaramu yang indah," katanya dalam bahasa inggris. Dia melanjutkan dengan kata berbahasa Indonesia "Kalian selalu di hati," kata dia saat memberikan sambutan dalam acara penutupan.

7. Bonus Besar Yang Langsung Cair Walau Tanpa Medali

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan di Komplek Istana Negara bahwa Pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp. 210 miliar untuk bonus atlet dan pelatih peraih medali Asian Games 2018. Anggaran tersebut bersumber dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA-BUN). Bonus, sudah bisa dinikmati sekarang juga. Semua penerima per hari ini (Minggu, 2/9/2018) sudah bisa melihat angkanya di buku tabungan, sudah ada di ATM, dan ini sejarah. Baru kali ini pemberian bonus bisa cepat.

Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memberikan bonus kepada para atlet dan pelatih peraih medali Asian Games 2018 sebelum upacara penutupan digelar pada Minggu malam. Acara pertemuan antara Jokowi dengan para atlet dan pelatih nasional peraih medali Asian Games 2018 sekaligus diisi seremoni penyerahan bonus secara simbolis. Presiden Jokowi memberi langsung bonus atlet peraih medali Asian Games 2018. Untuk atlet perorangan, peraih medali emas, perak dan perunggu masing-masing sebesar Rp. 1,5 miliar, Rp. 500 juta dan Rp. 250 juta. Sementara atlet beregu, peraih medali emas, perak, perunggu masing-masing akan mendapat Rp750 juta, Rp. 300 juta dan Rp. 150 juta per orang. Pelatih perorangan/ganda peraih emas, perak, perunggu masing-masing mendapatkan Rp450 juta, Rp150 juta dan Rp75 juta. Untuk pelatih beregu, peraih emas, perak, dan perunggu masing-masing mendapatkan Rp600 juta, Rp200 juta dan Rp100 juta.

Bonus bagi para atlet peraih medali emas, perak dan perunggu Asian Games 2018 itu diberikan tanpa dipotong pajak.

Imam mengatakan selain bonus tersebut, atlet juga akan menerima bonus lain berupa pengangkatan menjadi PNS dan rumah. Kalau PNS butuh waktu karena harus ada penyesuaian seperti prajabatan. Itu sudah tanpa tes tapi Jalur khusus. Yang pasti meski mereka PNS, kerjanya bukan di bangku atau di ruangan. Kerjanya di lapangan latihan terus. Sehingga pemerintah menjamin bulanannya. Kalau rumah masih menunggu Kementerian PUPR.

Atlet peraih medali emas Asian Games dari cabang olahraga Angkat Besi, Eko Yuli Irawan mengaku menerima bonus tanpa dipangkas pajak. Eko pun memperlihatkan buku tabungan bank BRI bertuliskan angka Rp. 1,5 miliar yang sudah diserahkan kepada dirinya, pada hari ini (Antara, Minggu, 2/9/2018). Bonus Bersih, pajak sudah ditanggung pemerintah.

Atlet peraih medali perunggu Asian Games 2018 dari cabang bridge Bambang Hartono memuji kecepatan pencairan bonus dari pemerintah. Luar biasa, apresiasi kepada pemerintah dan pemberiannya sangat bagus sekali karena langsung apresiasi (diberikan), juga tidak perlu atlet itu kembali lagi ke Jakarta, untuk terima hadiah lagi. Itu sangat efisien, bagus sekali.

Peraih medali emas pertama Indonesia dari cabang taekwondo, Defia Rosmaniar juga menilai bonus dicairkan dengan cepat oleh pemerintah. Cepat banget, belum penutupan langsung dapat [bonus], biasanya sebulan setelahnya baru dapat.

Setelah memberikan bonus untuk para atlet peraih medali pada Minggu (02/09/2018) pagi, Presiden Joko Widodo bertolak ke Lombok untuk menyaksikan penutupan Asian Games bersama para korban gempa. Presiden Joko Widodo menyaksikan penutupan Asian Games 2018 dari Lombok, namun memberikan sambutannya dari Lombok melalui video.

8. Drawa, Maskot Asian Games 2018 Yang Batal Tampil

Sebelum Kaka si badak, Atung si rusa dan BhinBhin si burung cendrawasih menjadi maskot Asian Games, ada Drawa. Drawa adalah burung cendrawasih berpakaian pencak silat. Namun desain Drawa dinilai "seadanya" dan usang oleh warganet, saat desain ini muncul pada 2015. Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pemuda dan Olahraga kemudian mengganti maskot Asian Games menjadi Kaka, Atung dan BhinBhin.
Bagaimana nasib Drawa? Sebuah twit berseri mengarang cerita tentang Drawa yang langsung jadi populer di media sosial. Di tengah upacara penutupan #asiangames2018 tiba-tiba Bhin Bhin, Atung, Kaka, dan seisi stadion digemparkan oleh sesosok makhluk yang muncul dari balik kegelapan.

Suksesnya Asian Games 2018 memang telah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Mari jadikan momen ini meninggalkan masa masa suram kegalauan politik. Berharap semua elemen bangsa bergerak maju ke kehidupan yang cerah dan meninggalkan kegelapan politik!

Jayalah Indonesia!
Karena,
Siapakah Kita?

INDONESIA

Monday, 27 August 2018

Inilah Peraih 12 Emas Kebanggaan Bangsa Indonesia Ke Klasemen Ke 5 Di Hari Ke 8 Asian Games 2018




Hingga hari ke-8 Asian Games 2018 pada Minggu (25/8/2018), Kontingen Indonesia sebagai tuan rumah terus menunjukan prestasinya dengan menyumbangkan 12 medali emas. Berikut atlet-atlet yang berhasil menggondol medali emas bagi Indonesia.

1. Defia Rosmaniar
Wanita kelahiran 25 Mei 1995 ini memboyong medali emas setelah mengalahkan Marjan Salashouri dari Iran, di individual poomsae untuk wanita. Wanita berjilbab ini memenangkan Medali emas pertamanya di Asian Games 2018. Sebelumnya, berbagai event yang pernah diikutinya adalah Asian Indoor and Martial Arts Games, Southeast Asian Games, dan Islamic Solidarity Games.

2. Lindswell Kwok
Lindswell Kwok, atlet wushu Indonesia, menyumbang emas kedua untuk Indonesia di Asian Games 2018. Perempuan yang dijuluki Ratu Wushu Asia ini merebut posisi puncak di cabang olahraga (cabor) wushu untuk Women's Taijuquan adalah atlet yang kaya prestasi. Sebelumnya di Asian Games 2014 di Incheon, ia merebut medali perak di cabor yang sama. Bahkan, wanita kelahiran 24 September 1991 ini pernah memborong 9 medali di ajang dunia selama taun 2009-2018 di mana 5 di antaranya adalah medali emas. Tak heran, jika pada tahun 2013 ia diklaim sebagai atlet terbaik dari Indonesian Olympic Committee.

3. Tiara Andini Prastika
Tiara Andini, Pebalap sepeda gunung Indonesia meraih medali emas ketiga di Asian Games 2018. Tiara yang merupakan atlet cycling srikandi Indonesia, mempersembahkan medali emas setelah menang di cabang sepeda gunung nomor downhill putri, dengan waktu tercepat 2 menit 33,056 detik. Ia mengalahkan Vipavee Deekaballes dari Thailand yang berada di posisi kedua dan terpaut 9,598 detik.


4. Mukhib Khoiful
Khoiful Mukhib, Pebalap sepeda gunung Indonesia meraih medali emas ketiga di Asian Games 2018. Mukhib Khoiful atlet cycling, ini memperoleh medali emas di cabor cycling untuk nomor downhill putra dan menjadi yang tercepat di nomor downhill dengan catatan waktu 2 menit 16,687 detik lebih cepat 1,497 detik dari Shengshan Chiang dari Taiwan yang berada di posisi kedua.

5. Eko Yuli Irawan
Eko Yuli Irawan, atlet angkat besi kebanggaan Indonesia, menambah jumlah medali emas Indonesia. Eko tampil sebagai juara di cabang olahraga angkat besi kelas 62 kg. Eko berhasil mengangkat beban 170 kg, dengan total 311 kg, di hadapan Presiden Jokowi yang datang langsung untuk menyaksikannya bertanding. Angkatan itu menempatkannya di posisi teratas dan memperkukuh posisinya lewat angkatan clean and jerk. Pria yang mulai serius di angkat besi pada tahun 2000, mengawali prestasinya dengan meraih medali perak pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro saat membukukan snatch 141 kg.

6. Tim Putra Beregu Paralayang
Tim putra beregu paralayang untuk nomor men's team accuracy, yang terdiri dari Hening Paradigma, Thomas Widyananto, Rony Pratama, dan Jafro Megaranto ini meraih nilai sempurna di round 6 dari total 6 round yang diperlombakan hari Rabu, 22 Agustus 2018, di Puncak Mas, Bogor, Jawa Barat. Tim kebanggan Indonesia ini, berhasil meraih medali emas keenam.


7. Jafro Megawanto
Jafro Megawanto, atlet putra, dari cabang paralayang berhasil meraih emas dari nomor ketepatan mendarat. Atlet asal Malang, Jawa Timur, itu menjadi yang terbaik setelah sukses menjadi yang terbaik di nomor akurasi tunggal putra di Gunung Mas Puncak dengan mengumpulkan nilai total 27. Jafro mengalahkan atlet paralayang asal Thailand Jirasak Witeetham (47) yang meraih perak dan Korea Selatan Lee Chulsoo (128) dengan perunggu.
Sebelum menjadi atlet profesional, Jafro yang tinggal berjarak 500 meter dari lokasi pendaratan paralayang di Malang hanya di Malang, saat usia 13 Jafro merupakan paraboy atau tukang lipat parasut dengan bayaran Rp. 5 ribu. Walau awalnya mendapat pertentangan dari orang tua, karena biaya latihan yang tidak sedikit, namun tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang atlet tidak menghalangi Jafro berprestasi. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Timur, Jafro menyumbangkan satu medali emas untuk kontingen Jatim. Bahkan, saat kali pertama bertanding di luar negeri, Jafro meraih peringkat kedua di Piala Dunia Paralayang Akurasi (PGAWC) di Kanada pada 2017. Di tahun 2018, Jafro keluar sebagai juara di Piala Dunia Paralayang Akurasi di Kazakhstan. Per 1 Agustus 2018 Jafro juga berada di peringkat kelima dunia untuk nomor ketepatan mendarat tunggal putra.

8. Aries Susanti Rahayu
Aries Susanti Rahayu dari cabor panjat tebing nomor sport climbing womens speed ,berhasil menambah medali emas di ajang Asian Games 2018. Cabor panjat tebing tak hanya menyumbangkan emas tapi juga perak disumbangkan Puji Lestari dari nomor sport climbing womens speed dan perunggu, disumbangkan Aspar Jaelolo di nomor sport climbing mens speed

9. Tim Dayung Indonesia
Tim dayung Indonesia, yang beranggotakan Tanzil Hadid, Rio Rizki Darmawan, Ali Buton, Ihram, Ujang Hasbulloh, Muhad Yakin, Jefri Ardianto, Ferdiansyah, serta Ardi Isadi berhasil merebut medali emas pertama dari disiplin rowing pada Asian Games. Dengan mencatat waktu 6 menit 08,88 detik mencapai finis di posisi pertama Tim Dayung Indonesia unggul dari Uzbekistan (6:12.46) peraih medali perak dan Hong Kong (6 menit 14,46 detik) peraih medali perunggu.
Sejarah baru bagi rowing Indonesia setelah sebelumnya, pencapaian terbaik Indonesia adalah medali perak pada Asian Games Bangkok 1998 dan pada Asian Games Incheon 2014, hanya mendapat satu medali "perunggu
Pelatih rowing Indonesia, Hadris Muhammad mengatakan perjalanan selama tujuh tahun mengubah pola pemikiran yang masih tradisional, tim LM8+ Indonesia mulai menunjukkan potensinya setelah mengikuti uji coba di Australia selama dua minggu dan training camp di Belanda selama tiga bulan.
Pelatih kepala tim rowing Indonesia, Boudewijn Van Opstal, mengatakan bahwa target medali emas pada nomor LM8+ ini sudah dipersiapkan sejak 2012 atau setelah SEA Games 2011, setelah itu, mereka bisa menjadi juara nasional di Belanda.
.
10. Pasangan ganda campuran Aldila Sutjiadi-Christopher Rungkat
Aldila Sutjiadi-Christopher Rungkat menyabet emas bagi Indonesia setelah memenangi pertarungan ketat selama 102 menit melawan duo Thailand, Luksika Kumkhum-Sonchat Ratiwatana dengan skor 6-4, 5-7, (10-7) di lapangan tenis kompleks Jakabaring, Palembang, Sabtu 25 Agustus 2018.
Terakhir kali tenis bisa menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia pada Asian Games 2002 di Busan, Korea Selatan. Saat itu, Indonesia meraih medali emas beregu putri, perak ganda putri melalui Wynne Prakusya-Angelique Widjaja, dan perunggu beregu putra. Medali emas Aldila Sutjiadi-Christopher Rungkat merupakan emas kedua yang diraih Indonesia dari nomor ganda campuran di Asian Games setelah terakhir didapatkan duet Yayuk Basuki-Hary Suharyadi pada Asian Games 1990 di Beijing, Tiongkok.


11. Rifki Ardiansyah Arrosyiid
Rifki Ardiansyah Arrosyiid berhasil menggondol medali emas dari cabang olahraga karate nomor kumite 60 kg Asian Games 2018 setelah mengalahkan karateka asal Iran Amir Mahdi Zadeh 9-7 di JCC Senayan, Jakarta. Dalam perjalanasil an ke final, Rifki mengalahkan Siravit Sawangsri (Thailand, 5-1), Hu Chen (Tiongkok, 8-0), Lee Chun Ho (Hong Kong) 3-0. Di semifinal, Rifki menghadapi karateka Malaysia Prem Kumar Selvam. Dengan skor 4-4.

12. Aqsa Sutan Aswar
Aqsa Sutan Aswar berhasil meraih Medali emas ke-12 Indonesia dari cabang olahraga jetski di nomor endurance runabout open Asian Games 2018 di Jetski Indonesia Academy Ancol. Aqsa meraih poin tertinggi dengan total 1.148 dalam tiga etape Moto1 hingga Moto3 mengatasi Supathat Foottrakul dari Thailand dan Jinwon Kim asal Korea Selatan. Aqsa yang mampu menyalip dan finis pertama dengan catatan waktu 37.56.4 menit, menempati ranking pertama dengan total poin 400, sementara Supathat Foottrakul - Thailand dapat poin 368, dan Jinwon Kim - Korea di tempat ketiga dengan poin 365.

Update klasemen dan perolehan medali Asian Games 2018, posisi kontingen Indonesia di peringkat 5. Sementara, klasemen dan perolehan medali Asian games 2018 masih dikuasai China, Jepang, Korea Selatan dan Iran. Indonesia total meraih 12 emas, 13 perak dan 25 perunggu per Minggu (26/8) malam. Tambahan paling banyak diraih di medali perunggu dengan tambahan sembilan keping.


Wednesday, 8 August 2018

Tangkal Radikalisme Di Sekolah, Ceramah Alumni Harus Disaring


Aksi teroris yang marak dalam beberapa pekan terakhir membuktikan mulai berkembangnya radikalisme di Tanah Air. Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Aman, (Batamnews.co.id, Rabu, 16 Mei 2018) bahkan kaget paham radikal ini sudah menyusupi dunia pendidikan, salah satunya di Batam. Ia mengatakan ada beberapa sekolah yang mengajarkan paham radikal. Pernah ditemukan bahwa anak-anak sekolah SMP ternyata menjadi kader oleh organisasi terlarang. Hal ini juga sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan. Sekolah-sekolah yang sudah disusupi radikalisme, berada di kawasan Bengkong dan Nongsa, baik itu sekolah negeri ataupun swasta. Warga sekitar sekolah menyebutkan ada hal yang tidak wajar. Pelaksanaan upacara misalnya, siswa tidak memberi hormat pada bendera merah putih. Selain itu, juga tidak diperbolehkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini harus menjadi perhatian yang serius kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Agar bibit-bibit radikalisme itu tidak menyusup lebih jauh ke dunia pendidikan.

Menurutnya, anak-anak dengan pondasi agama dan mental yang belum kuat akan mudah tersusupi. Harusnya anak-anak ini juga dikuatkan ilmu-ilmunya terkait nilai-nilai kebangsaan. Pemkot Batam, masih lemah dalam mengawasi penyebaran radikalisme di sekolah. Seharusnya Pemkot Batam lebih proaktif mengawasi sistem pendidikan, bahkan paham ini sudah masuk ke sekolah dan dibiarkan saja. Jangan sampai ada menyusup kegiatan dengan menggunakan simbol-simbol organisasi yang dilarang oleh Indonesia, maka akan bahaya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, (Batamnews.co.id, Senin, 21 Mei 2018) mengatakan beredar informasi radikalisme masuk di beberapa sekolah dengan tidak mewajibkan siswa hormat bendera merah putih dan menyanyikan lagu "Indonesia Raya. Setelah informasi itu beredar langsung dikroscek ke lapangan, ke semua sekolah baik swasta maupun negeri. Saat turun ke lapangan, ternyata anggotanya tidak menemukan kebenaran informasi radikalisme tersebut.

Pengecekan ke lapangan dilakukan langsung melalui perkumpulan kepala sekolah yang berada di masing-masing kecamatan. Belum ada bukti ditemukan, informasinya di Bengkong dan Nongsa tidak ada. Meskipun tidak ditemukan tanda kebenaran informasi radikalisme tersebut, akan tetap dikirim surat edaran ke semua sekolah terkait persoalan itu. Jika memang ada, silakan laporkan langsung.

Informasi yang beredar itu terkait paham radikal yang berasal dari pernyataan mengejutkan anggota Komisi IV DPRD Batam, Aman. Aman menemukan adanya sekolah di Batam yang beraliran radikal, yakni tidak hormat bendera dan menyanyikan lagu "Indonesia Raya". "Semua sekolah, tentang upacara sudah tahulah seperti apa. Aturannya upacara juga sudah kita berikan," kata Hendri.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Hengki mengatakan, beberapa anggota satuan intelkam Polres Barelang telah mendatangi dan melakukan penyelidikan terhadap isu tersebut. Anggota satuan intelkam Polres Barelang sudah mendatangi ke lokasi atas isu yang disampaikan Aman anggota DPRD Batam tersebut. Belum temukan indikasi tersebut.

Seorang warga di Bengkong juga menyebutkan juga melihat sendiri bahkan sempat berdebat mengenai prosesi upacara bendera yang tidak hormat terhadap bendera merah putih tersebut. Saya sempat debat dengan pihak sekolah. Hal itu ia ketahui sekitar tahun lalu sekitar November 2017.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti pada konferensi pers kejahatan terorisme di Kantor KPAI, Jakarta (Rabu, 16/5/2018) mengatakan jaringan alumni di sekolah dapat menjadi pintu masuk paham radikalisme. Anak-anak yang disusupi paham radikalisme perlahan-lahan akan terlibat dalam jaringan terorisme. Secara umum, ada beberapa indikasi kasus, pelibatan anak masuk jaringan terorisme dan paham radikalisme itu dari para alumninya. Ini terlihat saat anak mulai bicara atau bertindak radikal setelah masuk jaringan alumni. Setelah para alumni lulus dari sekolah, mereka bisa membentuk kegiatan atau ekstrakurikuler tertentu. Dalam hal masuknya jaringan terorisme, kegiatan yang dilakukan lebih mengarah pada kegiatan kerohanian. Mereka dan juniornya tergabung dalam kegiatan kerohanian. Biasanya kegiatan ini berupa kelompok kecil yang beranggotakan lima orang. Proses masuknya paham radikalisme dan terorisme melalui kegiatan kerohanian di sekolah tidak secara langsung. Siswa yang bersangkutan biasanya dibantu terlebih dahulu, apa kesulitan yang dihadapi. Misalnya, ada anak yang nilainya kurang di mata pelajaran tertentu. Dia nanti dibantu sama kakak-kakak alumninya. Atau bisa juga siswa yang ternyata kurang kasih sayang di keluarganya, diberikan kasih saying. Ketika siswa sudah sangat nyaman dan dekat dengan alumni, paham radikalisme juga terorisme baru disampaikan.

Tanda-tanda siswa terpapar paham radikalisme terlihat saat ia tidak mau hormat bendera (Merah Putih)--ikut upacara bendera--dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Untuk mengantisipasi menyebarnya paham, salah satu cara adalah mendeteksi isi ceramah yang disampaikan. Contohnya di DKI Jakarta kan tiap hari Jumat suka ada ceramah. Sekolah bisa mendeteksi, sebelum ceramah disampaikan, apa isi ceramahnya. Apakah konten ceramah berisi unsur radikal atau tidak.

Sampai dimana pengawasan dan antisipasi pihak terkait khususnya bidang Pendidikan?
Mari kita dukung NKRI harga mati mulai dari usia dini hingga akhir hayat jangan sampai ada yang menghianati.

Salam NKRI.


SUMBER:

KABAR TEMAN

ARSIP

*** TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG *** SEMOGA BERMANFAAT *** SILAHKAN DATANG KEMBALI ***
Komunitas Pendidikan Indonesia. Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.
Hai, Kami Juga Hadir di Twitter, like it - @iKOMPI25
Kirim Surat