KOMPI+25

Komunitas Pendidikan Indonesia

Jaringan Komunikasi KOMUNITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Showing posts with label Fasilitas. Show all posts
Showing posts with label Fasilitas. Show all posts

Wednesday, 13 February 2019

Masih Ada Kesempatan, Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019 Diperpanjang.


"Memperhatikan belum semua siswa sekolah yang eligible sebagai peserta SNMPTN 2019 melakukan pendaftaran dan finalisasi maka untuk memberikan kesempatan kepada seluruh siswa yang eligible, pendaftaran SNMPTN yang semula berakhir pada hari Kamis, 14 Februari 2019 pukul 22.00 WIB, diperpanjang sampai dengan Sabtu, 16 Februari 2019 pukul 22.00 WIB," demikian disampaikan Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Prof. Ravik Karsidi dalam surat pengumuman yang diterima Kompas.com (13/2/2019).

Pada 4 Februari 2019 yang lalu, Panitia LTMPT telah menyampaikan hasil pemeringkatan dan eligibilitas siswa untuk mendaftar SNMPTN 2019. Menurut Prof. Ravik Karsidi Ketua LTMPT Jumlah siswa yang eligibel untuk mendaftar di SNMPTN tahun ini sebanyak 613.860 siswa dan jumlah sekolah yang siswanya eligibel bisa mendaftar di SNMPTN 2019 sebanyak 14.744 sekolah.

"Pemeringkatan dan eligibilitas siswa dilakukan untuk setiap sekolah per jurusan yang didaftarkan di PDSS 2019 dan didasarkan pada isian data nilai oleh sekolah yang sudah diverifikasi oleh siswa, untuk mata pelajaran tercantum di laman www. snmptn.ac.id," jelas Prof. Ravik. 

Pemeringkatan dan eligibilitas siswa dilakukan untuk setiap sekolah per jurusan yang didaftarkan di PDSS 2019 dan didasarkan pada isian data nilai oleh sekolah yang sudah diverifikasi oleh siswa, untuk mata pelajaran tercantum di laman www. snmptn.ac.id.

Pemeringkatan dilakukan oleh sistem berdasarkan nilai mata pelajaran sebagai berikut:

1. Jurusan IPA: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi.
2. Jurusan IPS: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi.
3. Jurusan Bahasa: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu Bahasa Asing.
4. SMK: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kompetensi Keahlian (Teori Kejuruan dan Praktik Kejuruan).

Standar Pemeringkatan Siswa Layak Ikut SNMPTN 2019

Panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) menyampaikan hasil pemeringkatan dan eligibilitas siswa untuk mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2019 diumumkan Senin, 4/2/2019, Pk. 08.00 - Pk. 15.00 WIB.
Ketua Panitia LTMPT Prof. Ravik Karsidi menyampaikan siswa yang masuk daftar eligibel sudah dapat melakukan pendaftaran SNMPTN 2019 hari Senin, 4/2/2019, pada Pk. 14.00 sampai dengan tanggal 14 Februari 2019.

Eligibilitas ditentukan dengan melihat ketentuan kuota berdasarkan akreditasi sekolah seperti tercantum di laman www.snmptn.ac.id.

"Hasil pemeringkatan (SNMPTN 2019) hanya dapat dilihat oleh siswa secara individu. Jadi sekolah atau orang lain yang tidak memiliki username dan password yang diberikan kepada siswa tidak bisa melihat," jelas Prof. Ravik.
Hal itu juga ditegaskan Ketua Kordinator Pelaksana Teknis SNMPTN 2019 Prof. Budi Prasetyo. "Hasil pemeringkatan tidak diinfokan secara terbuka, sekolah saja tidak bisa melihat. Hak informasi eligibilitas ada di siswa masing-masing dengan akses di laman SNMPTN menggunakan username dan password masing," ujar Prof. Budi Prasetyo.

Pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi SNMPTN di https://web.snmptn.ac.id/

Untuk masuk dalam pendaftaran, siswa dapat memasukan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan password. Password yang digunakan adalah password yang sama dengan sistem pengisian PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa). Bagi siswa yang belum mendapatkan password dapat meminta langsung kepada pihak sekolah.

Prof. Budi Prasetyo juga menyampaikan, "Mulai pkl 8.00 WIB segera akses ke web SNMPTN untuk melihat apakah siswa masing-masing eligibel untuk mendaftar di SNMPTN." Ia mengimbau bagi siswa yang eligibel mulai Pk. 15.00 WIB segera melakukan pendaftaran SNMPTN 2019. "Jangan menunda pada waktu akhir pendaftaran. Dan bagi siswa tidak eligibel dimohon mempersiapkan diri untuk mendaftar Ujian Tulis Berbasis Komputer dan lanjut mendaftar SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sesuai waktu yang sudah ditentukan," pesannya

Panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), penyelenggara SNMPTN 2019 telah melakukan perhitungan rekapitulasi final jumlah sekolah dan siswa yang telah melakukan verifikasi data Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Verifikasi PDSS untuk siswa sendiri telah ditutup kemarin Rabu, 30/1/2019, pada Pk. 06.00 WIB setelah sebelumnya verifikasi sekolah ditutup pada hari Minggu (27/1/2019).

Ketua Panitia LTMPT Prof. Ravik Karsidi menyampaikan terjadi kenaikan jumlah sekolah dan siswa yang telah melakukan verifikasi data pada SNMPTN 2019 jika dibandingkan tahun sebelumnya. Perbandingan kenaikan partisipasi sekolah dan siswa yang telah melakukan verifikasi untuk mengikuti SNMPTN 2019 sebagai berikut:

1. Jumlah Sekolah Mengisi Data Total jumlah sekolah mengisi data pada SNMPTN 2018 mencapai 17.889 sekolah. Di tahun ini terdapat 18.206 sekolah berpartisipasi dalam pengisian data PDSS.
2. Jumlah Siswa Mengisi Data Di tahun 2018 sebanyak 2.293.513 mengisi PDSS sedangkan untuk SNMPTN 2019 sebanyak 2.340.922 siswa mengisi pangkalan data ini.
3. Jumlah Sekolah Finalisasi Data Jumlah sekolah yang telah melakukan finalisasi data di tahun 2019 ini mencapai 14.888 sekolah. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018 di mana 10.152 sekolah terdaftar ikut SNMPTN 2018.
4. Jumlah Siswa Verifikasi Data Data final diterima Kompas.com terkait jumlah siswa yang telah melakukan verifikasi data dan berhak mendaftar untuk SNMPTN 2019 mencapai angka 955.781 siswa. Jumlah ini mengalami kenaikan cukup signifikan bila dibandingkan tahun lalu sebanyak 648.104 siswa.

Pada Senin (28/1/2019) Ketua Pelaksana Eksekutif LTMPT Prof. Budi Prasetyo Widyobroto "Bagi yang merasa tidak perlu atau terlambat pengisian PDSS dan sudah ditutup, maka siswa diminta daftar jalur SBMPTN atau mandiri.

Setelah proses verifikasi data selesai, siswa SMA/SMK/MA selanjutnya dapat melakukan pendaftaran SNMPTN pada 4-14 Februari 2019. Selanjutnya, pengumuman hasil seleksi SNMPTN akan diumumkan pada 23 Maret 2019.

Ini Tahapan SNMPTN 2019

Pendaftaran mahasiswa baru jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dimulai pada 4 Februari 2019.
Tahap sebelumnya, pihak sekolah dan siswa telah diminta untuk melakukan pengisian dan verifikasi data sekolah dan siswa (PDSS) yang berakhir pada Selasa (29/1/2019). Siswa yang dinyatakan memenuhi syarat dan masuk peringkingan oleh Lembaga Tes Masuk Peguruan Tinggi (LTMPT), dapat mendaftar melalui laman resmi SNMPTN 2019.

Ketua LTMPT Ravik Karsidi mengatakan, perbedaan dalam SNMPTN tahun ini terletak pada pemilihan jumlah program studi dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dapat dipilih oleh siswa. "Tidak ada perbedaan (dengan tahun sebelumnya). Yang membedakan jumlah pilihannya hanya boleh dua prodi (program studi)," kata Ravik saat dihubungi Kompas.com, Kamis (31/1/2019). "Dua prodi bisa dalam satu PTN atau bisa dua PTN masing-masing satu pilihan yang satu jalur (untuk yang dari IPS hanya bisa di Soshum dan yang dari IPA hanya boleh Saintek)," kata Ravik.

Berdasarkan informasi dari situs resmi SNMPTN, terdapat 85 perguruan tinggi negeri yang dapat dipilih bagi peserta SNMPTN tahun 2019.

Tahapan mengikuti SNMPTN 2019 kali ini dibagi menjadi tiga.

1. Pengisian dan verifikasi Pengisian dan verifikasi pengisian data sekolah dan siswa kali ini terbagi menjadi empat, yaitu
a. Pengisian data sekolah dan siswa di PDSS harus melalui laman http://pdss.snmptn.ac.id. Pengisian ini dilakukan oleh pihak sekolah, yaitu kepala sekolah atau yang ditugasi oleh kepala sekolah terkait.
b. Kepala sekolah atau yang ditugasi kepala sekolah akan mendapatkan password yang digunakan oleh siswa untuk melakukan verifikasi.
c. Siswa melakukan verifikasi data rekam jejak prestasi akademik (nilai rapor) yang diisikan oleh kepala sekolah atau yang ditugasi kepala sekolah dengan menggunakan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan password.
d. Apabila siswa tidak melaksanakan verifikasi data rekam jejak prestasi akademik (nilai rapor) yang diisikan kepala sekolah atau yang ditugasi kepala sekolah, maka data yang diisikan tersebut dianggap benar dan tidak dapat diubah setelah waktu verfikasi berakhir.

2. Pemeringkatan Pemeringkatan didasarkan pada dua hal, yaitu berdasarkan nilai mata pelajaran dan kuota sekolah berdasarkan akreditasi.
a. Pemeringkatan siswa dilakukan oleh sistem Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) berdasarkan nilai mata pelajaran, seperti berikut: Jurusan IPA: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan Biologi. Jurusan IPS: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi. Jurusan Bahasa: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sastra Indonesia, Antropologi, dan salah satu Bahasa Asing. SMK: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kompetensi Keahlian (teori kejuruan dan praktik kejuruan).
b. Berdasarkan pemeringkatan prestasi akademik oleh LTMPT, siswa yang memenuhi persyaratan diperbolehkan untuk mendaftar SNMPTN 2019 dengan ketentuan akreditasi sekolah, yakni Akreditasi sekolah A, maka 40 persen terbaik di sekolah tersebut. Akreditasi sekolah B, maka 25 persen terbaik di sekolah tersebut. Akreditasi C dan lainnya, maka 5 persen terbaik di sekolah tersebut.

3. Pendaftaran SNMPTN Pendaftaran SNMPTN terbagi menjadi empat langkah, yaitu
a. Siswa pendaftar yang memenuhi kriteria pemeringkatan oleh LTMPT, login ke laman SNMPTN 2019 menggunakan NISN dan password.
b. Siswa pendaftar mengisi biodata yang ada, pilihan PTN, dan pilihan program studi. Peserta juga diminta untuk mengunggah pas foto resmi terbaru dan dokumen prestasi tambahan (apabila ada). Siswa pendaftar diimbau untuk membaca dan memahami seluruh ketentuan yang berlaku pada PTN pilihannya.
c. Siswa pendaftar pada program studi bidang seni dan olahraga wajib mengunggah portofolio dan dokumen bukti keterampilan yang telah disahkan oleh kepala sekolah menggunakan pedoman yang dapat diunduh dari laman SNMPTN, www.snmptn.ac.id.
d. Siswa pendaftar mencetak kartu bukti pendaftaran sebagai tanda bukti peserta SNMPTN. Sebagai tambahan informasi, pendaftaran SNMPTN dilaksanakan selama sepuluh hari, yaitu 4-14 Februari 2019, dan hasil seleksi akan diumumkan pada 23 Maret 2019.


Berikut cara mendaftar SNMPTN 2019 dan uraiannya.

1. Login

Siswa yang mengikuti SNMPTN dapat mendaftar dengan login menggunakan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan password yang sama ketika melakukan penilaian pada sistem PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa). Apabila baru pertama kali login, maka muncul halaman untuk mengganti password, kemudian silakan mengganti password tersebut. Sebagai tambahan informasi, apabila siswa tidak berhak mengikuti SNMPTN, maka akan muncul halaman pernyataan bahwa Anda tidak dapat mengikuti SNMPTN.


2. Menyanggupi pernyataan

Siswa menyanggupi pernyataan kesungguhan mendaftar SNMPTN 2019. Halaman ini akan muncul secara otomatis dalam sistem. Nantinya, akan muncul nama siswa, NISN, dan asal sekolah. Kemudian, siswa tinggal klik "Saya Setuju" apabila menyanggupinya. Setelah itu, klik tombol proses.

3. Melakukan pendaftaran

Siswa melakukan pendaftaran dengan memilih Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan program studi yang diinginkan. Setelah itu, peserta mengisi formulir pendaftaran, mengunggah foto, mengunggah bukti prestasi apabila ada, mengunggah portofolio apabila memilih program studi seni dan/atau olahraga.

4. Finalisasi

Langkah selanjutnya adalah melakukan finalisasi pendaftaran SNMPTN. Finalisasi merupakan hal penting karena apabila tidak dilakukan, maka siswa dianggap tidak mendaftar. Pastikan bahwa data, pemilihan PTN, dan program studi sudah benar. Hal yang perlu diingat, setelah melakukan finalisasi, maka pendaftaran tidak dapat diubah lagi. Centang seluruh kotak konfirmasi, kemudian klik finalisasi pendaftaran.

5. Mengunduh dan mencetak kartu

Setelah melakukan finalisasi, maka siswa dapat mengunduh dan mencetak kartu tanda peserta dengan mengisikan nomor peserta UN.



SUMBER : Kompas.com

Friday, 17 August 2018

Ternyata, Hingga Kini Masih Ada Guru Yang Terabaikan



Terlepas dari banyaknya kabar negatif profesi guru, masih banyak guru yang dengan segenap hati mengabdi dan jadi pahlawan sesungguhnya.

Dwifa, seorang guru perempuan dan pendiri sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Zikir, di Desa Tik Teleu, Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, (Selasa, 9/1/2018) menyebutkan, sekolah itu dibangun atas dasar rasa khawatir akan tingginya angka putus sekolah di daerah itu. Sekolah yang terlihat memprihatinkan itu itu dibangun pada 2011. Separuh gedungnya terbuat dari papan dan semen, sedangkan plafonnya rusak di beberapa bagian. Gedung tersebut merupakan pinjaman dari pemerintahan desa. Terdapat 38 siswa dan delapan guru sebagai tenaga pengajar. Menurut Dwifa, menjadi guru di MTs Zikir, merupakan bentuk kekhawatiran kami atas kondisi kampung halaman. Jadi, enggak mikir gajilah. Untuk kehidupan sehari-hari, dia dan suami menjadi petanijelasnya.

Hiriani, guru lainnya, yang paling yunior karena baru enam bulan bergabung di sekolah itu, berharap pengetahuan yang dimiliki dari perguruan tinggi dapat dibagi buat remaja di desa. Ia tidak mempersalahkan masalah gaji yang hanya Rp 100.000 per bulan.

Dua tahun berdiri, pada 2011 dan 2012 terdapat 14 tenaga pengajar. Selama dua tahun, 14 guru tidak digaji sama sekali. Lalu, masuk 2013 hingga 2015, barulah para guru mendapatkan gaji dari Kementerian Agama. Dananya diambil dari Bantuan Operasional Siswa (BOS). Tahun 2013 hingga 2015 gaji diterima per bulan sekitar Rp 30.000 dibayar per tiga bulan. Tiga bulan terima Rp 90.000. Gaji sebesar itu berlanjut hingga 2016, barulah naik menjadi Rp 100.000 per bulan.

Sukamdani, Kepala Sekolah MTs Zikir Pikir. Sukamdani yang memiliki gelar master pada bidang agama Islam lebih memilih kembali ke kampung halaman daripada tawaran menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi. Saat ini sekolah itu memiliki tanah sekitar satu hektar sebagai wakaf dari masyarakat. Namun, pihaknya belum dapat memanfaatkan tanah wakaf itu karena terkendala biaya pembangunan gedung.

Perjuangan Hamidah perempuan kelahiran Makassar 7 Desember 1969, sebagai guru penuh tantangan, karena untuk mengajar di sekolahnya, dia harus mengarungi lautan. Hamidah mengajar di SDN 6 Selat Nasik yang berada di Pulau Kuil. Hamidah, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, menerima penghargaan sebagai juara pertama Guru SD Berdedikasi di Daerah Khusus. Hamidah di Jakarta, (Sabtu, 19/8/2017) mengatakan bahwa kiprahnya sebagai guru di sekolah, daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), membuahkan hasil. Kalau ombaknya lagi tinggi, ya, tidak bisa ke mana-mana.

Pulau Kuil merupakan salah satu pulau yang ada di Kecamatan Selat Nasik. Pulau tersebut terletak di Selat Gaspar, yang memisahkan antara pulau Bangka dan Belitung. Sekolah dasar tempatnya mengajar itu merupakan satu-satunya sekolah di pulau itu. Suami dan kedua anak Hamidah tinggal di Tanjung Pandan, Ibu Kota Kabupaten Belitung. Baru satu kali dalam sebulan, dia bisa menemui anak dan suaminya. Untuk mengajar di sekolah itu, dia harus rela jauh dari suami dan kedua anaknya. Semua itu dia lakukan agar anak-anak didiknya mendapatkan pengajaran. Kalau ombaknya tinggi, baru 2 bulan sekali pulang ke rumah. Di Pulau Kuil tersebut, sinyal telepon seluler termasuk barang langka yang kadang ada dan kadang hilang. Di Pulau Kuil, dia tinggal di rumah dinas guru yang tidak jauh dari tempatnya mengajar. Rumah dinas yang ditempatinya pun terbilang sangat sederhana serta belum dialiri listrik. Untuk sekadar mengisi ulang ponselnya, dia harus berjalan kaki ke rumah warga yang berjarak sekitar 3 kilometer. Di rumah warga, listrik berasal dari mesin diesel, bukan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Itu pun hanya hidup mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB.

Hamidah Wali Kelas Satu itu, sudah mengajar di sekolah itu sejak 2001, sejak pengangkatan dia sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Semasa menjadi guru honorer, dia mengabdi di SDN di Pulau Gersik yang lebih ramai daripada Pulau Kuil. Lama perjalanan dari Pulau Gersik ke Pulau Kuil sekitar 2 jam.

Menurut Hamidah mengajar di daerah khusus, memiliki tantangan tersendiri. Selain sarana dan prasarana yang masih tertinggal, juga dihadapkan dengan pandangan masyarakat yang belum menganggap penting pendidikan. Para orang tua bilang, 'Buat apa sekolah. Tidak sekolah pun, mereka bisa cari uang dan ke Tanah Suci'. Para orang tua, lebih suka mengajak anak-anaknya pergi mencari nafkah daripada sekolah. Apalagi, ketika musim mencari ikan tiba, anak-anak yang seharusnya sekolah malah pergi melaut bersama orang tuanya selama berbulan-bulan. Dia dan guru-guru lainnya terkadang harus datang ke rumah-rumah mencari murid. Anak-anak itu baru kembali ke sekolah beberapa bulan kemudian setelah pulang dari melaut. Tidaklah heran jika murid di sekolah itu terbilang sedikit. Pada awal mengajar di sekolah itu, murid yang ada kelas satu hingga kelas enam hanya 23 orang.

Jangankan berharap anak sudah mengenal huruf, memegang pensil pun banyak yang belum bisa. Meskipun demikian, potensi anak-anak di pulau itu juga tak kalah dengan anak-anak di perkotaan. Banyak anak-anak di sekolah itu yang sering ikut lomba olimpiade sains hingga ke tingkat provinsi. Cuma untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, terbilang sedikit karena belum ada SMP di pulau itu. Kalau melanjutkan ke SMP, mereka harus keluar dari pulau itu. Hanya 25 persen dari lulusan sekolah itu yang melanjutkan pendidikan. Sisanya menjadi nelayan, seperti umumnya para orang tua di pulau itu.

Sebelumnya, setiap bulannya ada tunjangan khusus untuk guru yang mengajar di daerah 3T. Tetapi sejak 2017, guru-guru yang mengajar di daerah 3T di Bangka Belitung, tak lagi mengenyam manisnya tunjangan itu.

Bukan hanya guru, Makmuri pria 52 tahun, Kepala SD Wotgalih 3, Kecamatan Pangkah, Tegal, Jawa Tengah, harus menyeberangi dua sungai besar dan menelusuri hutan dengan jalan kaki agar bisa mengajar siswanya. Jumlah siswa di sekolah yang dipimpinnya tersebut hanya 34 anak. Jumlah gurunya 10 orang.

Kendati dari rumah di Desa Penusupan, Kecamatan Jatinegara, Tegal, menggunakan sepeda motor, Makmuri tidak bisa langsung sampai di sekolah. Sebab, kondisi jalan terputus oleh aliran sungai besar. Alhasil, motornya terpaksa ditinggal di tepi sungai. Perjalanan ke sekolah pun dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menyeberangi Sungai Rambut. Sepatunya yang sudah disemir dari rumah harus dilepas. Setelah menyeberang sungai, dia berjalan melewati hutan sejauh sekitar 2 kilometer. Tentu saja, jalannya tidak semulus di Kota Slawi. Dia harus berhati-hati karena bisa terpeleset dan jatuh di jalan yang berlumpur. Lolos dari rintangan itu, Makmuri harus menyeberangi kali lagi, yakni Sungai Lohgeni. Kalau arus sungai meluap, sering kali harus menunggu berjam-jam hingga air surut. Tapi, kalau tidak surut juga, ya pulang.

Nasib guru honorer sekolah tak sebanding dengan kebutuhan zaman sekarang. Mereka harus perpeluh dengan gilasan zaman dengan mengandalkan gaji setiap bulan sebesar Rp 200 ribu per bulan. Padahal, jasanya mengajar untuk mencerdaskan anak didik bangsa sudah berkisar 15 hingga 25 tahun.

Sudiono Saputro yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Lampung kepada (Republika.co.id Rabu (2/5) di Bandar Lampung, mengatakan, gaji guru honorer sekolah swasta saat ini, selain tidak pernah naik gaji honor setiap tahun, harapan untuk menjadi pegawai negeri juga selalu terhalang. Gaji kami guru honorer mulai dari Rp 200 ribu dan paling tinggi Rp 500 ribu. Ada yang sudah mengajar 15 tahun dan paling lama 25 tahun tapi honor segitu saja. Sudiono sendiri sudah menginjak masa kerja guru honor selama 20 tahun lebih.

Menurut dia, guru honor di sekolah-sekolah swasta sama berartinya dengan guru aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS). Mereka sama-sama mengajar mata pelajaran di kelas, waktu masuk sekolah dan pulang seolah juga sama, serta beban mengajar juga sama, tapi penghargaan kepada guru honorer sangat miris sekali. Peran guru swasta dan negeri sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bedanya, kesejahteraan guru honor apalagi swasta sangat miris dari kesejahteraan guru pegawai negeri.

Kuswanto, guru SMP swasta di Kabupaten Lampung Selatan menyatakan, nasib guru honorer semakin tidak jelas dari pemerintah. Padahal, tugas guru sama dengan guru lainnya mengajar anak bangsa. Para guru honorer ingin menjadi ASN.

Sekretaris DPRD Lampung Kherlani mengatakan Pemprov Lampung dan DPRD mengakomodasi tuntutan para guru honor. Tuntutan guru tidak berlebihan untuk dihargai dengan diangkat menjadi ASN. Kewenangan diangkat ASN adalah pemerintah pusat. Pemprov akan merekomendasikan tuntutan para guru tersebut ke pusat. Kemungkinan para guru honorer sekolah swasta menjadi ASN masih sangat terbuka, namun harus bergantung dari kebutuhan tenaga guru, apalagi saat ini masih digodok rancangan undang undang ASN.

Ribuan guru swasta yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) menuntut kesetaraan status. Mereka mendorong DPR merevisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Orator demonstrasi di depan Gedung MPR/DPR menyebut setidaknya 3.000 guru swasta hadir. Mereka menilai regulasi yang ada diskriminatif terhadap guru swasta.

Ketua Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Mohammad Fatah menilai guru swasta di Indonesia bak dianaktirikan. Diskriminasi dan praktik ketidakadilan terhadap guru-guru tersebut justru muncul dari negara. Pernyataan itu menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2005 tentang pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS, diberlakukannya PP Nomor 56 Tahun 2012 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi CPNS, kemudian terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Parahnya lagi, DPR juga berencana akan merevisi UU Nomor 5 Tahun 2014. Perundang-undangan itu tidak adil memperlakukan guru di sekolah swasta karena hanya fokus pada guru di sekolah negeri. Hanya honorer yang mengajar di sekolah negeri yang diangkat menjadi CPNS. Amanah UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, maupun PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru secara tegas tidak membedakan profesi mulia itu. Entah itu guru di sekolah swasta, maupun guru yang mengajar di sekolah negeri. Dalam aturan itu tidak menyebutkan. Pemerintah mendikotomikan guru. Pemerintah juga gagal mengemban amanah Pancasila. Utamanya sila ke-5 dan UUD Tahun 1945 Pasal 28 D ayat 2. (Medcom.id.)

SUMBER :

Thursday, 9 August 2018

Menghindari Biaya Pendidikan Yang Mahal, Disini Ada Kuliah Gratis Yang Berkualitas


Menurut survey yang dilakukan oleh HSBC, Indonesia ternyata masuk dalam 15 besar negara dengan biaya pendidikan termahal. Indonesia berada di peringkat 13, sementara posisi pertama diduduki oleh Hong Kong. Angka tersebut diperoleh dari sebuah study baru yang menghitung biaya untuk pendidikan anak-anak, yang dilakukan oleh HSBC terhadap 8481 orang tua di 15 negara dari berbagai belahan dunia, yaitu adalah Australia, Kanada, China, Mesir, Prancis, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Singapura, Taiwan, Uni Emirat Arab, Inggris and Amerika Serikat.

Para orang tua di Hong Kong merupakan orang tua yang membayar paling mahal untuk pendidikan anaknya, dengan rata-rata biaya lebih dari US$130.000 untuk biaya mulai dari pendidikan dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di posisi kedua ada Uni Emirat Arab yang menghabiskan rata-rata hampir mencapai US$100.000 dan setelahnya ada Singapura dengan biaya sebesar US$70.000. Di Amerika Serikat, negara yang memiliki enam dari sepuluh perguruan tinggi terbaik dunia, memiliki biaya pendidikan rata-rata sebesar US$58.000, kurang dari setengah rata-rata biaya pendidikan di Hong Kong. Rata-rata biaya pendidikan di Prancis hanya sebesar US$16.000. Angka tersebut hampir sama dengan di India, Indonesia, dan Mesir, dimana para orang tua hanya mengeluarkan biaya pendidikan untuk anaknya sebesar kurang dari US$20.000.

Dalam survei tersebut diperoleh hasil bahwa para orang tua di Prancis termasuk orang tua yang pesimis jika anaknya bisa memiliki masa depan yang cerah. Hanya ada 42% orang tua di Prancis yang yakin anaknya punya masa depan cerah, sementara untuk rata-rata orang tua di dunia ada 75% orang tua yang percaya anaknya memiliki masa depan yang cerah.

Kebanyakan, orang tua di Asia-lah yang memiliki pandangan optimis mengenai masa depan anak-anaknya. Sebanyak 87% orang tua di India optimis anaknya memiliki masa depan yang cerah, sementara di China ada 84% orang tua yang optimis tentang masa depan anaknya. Bagi 87% orang tua di seluruh dunia, mendanai pendidikan anak merupakan prioritas utama, dilansir dari situs resmi Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Melihat besarnya angka yang dikeluarkan, tidak heran jika para orang tua sangat ketat dalam mengawasi kemana dana tersebut mengalir. Beberapa orang tua biasanya lebih menyukai pendidikan yang menjurus ke pekerjaan-pekerjaan tradisional, seperti jurusan ilmu kedokteran (13%), jurusan bisnis, manajemen, dan keuangan (11%), dan jurusan teknik (10%). Mereka juga senang jika anaknya mendapatkan pendidikan sebanyak mungkin. Sebanyak 78% orang tua beranggapan memperoleh gelar pascasarjana (S2) merupakan hal yang penting agar anaknya bisa mendapatkan pekerjaan tetap di bidang pekerjaan pilihan mereka, dan sebanyak 76% orang tua berharap bisa berkontribusi membiayai pendidikan pascasarjana anaknya.

Namun, HSBC memperingatkan bahwa ada orang tua yang tidak merencanakan dengan benar pengeluarannya. Hampir 75% orang tua mengandalkan pendapatan sehari-hari mereka untuk biaya pendidikan anaknya, dan bukannya mengandalkan investasi jangka panjang maupun tabungan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat meresmikan gedung Techno Park di SMK Negeri 2 Pangkalpinang, (Tempo, Jumat, 23/3/2018) menilai janji sekolah gratis itu: (1) tak perlu dipercaya, dan (2) ketinggalan zaman. Ia ingin masyarakat kritis dengan omongan pejabat sebab pendidikan di Indonesia bisa berjalan dengan pemanfaatan APBN dan APBD. Pejabat tipe seperti itu, katanya, biasanya merujuk pada sekolah yang tak terurus. Percuma gratis kalau tidak mutu. Ini selalu saya ingatkan bahwa tidak ada sekolah gratis itu.  Di negara-negara lain di seluruh dunia sudah tidak memberlakukan sekolah gratis, termasuk di negara-negara Eropa maju, termasuk Jerman. Katanya kebijakan itu dilakukan untuk meningkatkan dunia pendidikan di negara bersangkutan.

Selama abad ke-18 Kerajaan Prussia, yang berkuasa di teritori Jerman modern, adalah salah satu negara pertama di dunia yang memperkenalkan pendidikan dasar maupun umum secara gratis. Pendidikan dasar ditempuh selama delapan tahun. Ini membantu menyediakan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung yang dibutuhkan di industri. Juga soal etika, kewajiban, kedisiplinan, dan kepatuhan. Usai Perang Dunia I Republik Weimar turut mengembangkan sekolah dasar empat tahun yang bebas dan bersifat universal, artinya bisa diakses siapa saja. Sebagian besar siswa melanjutkannya ke jenjang empat tahun selanjutnya untuk kursus. Sementara lainnya melanjutkan ke sekolah dengan kurikulum yang lebih berat untuk satu atau dua tahun, cukup dengan membayar sedikit biaya.

Dalam catatan Angloinfo, pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak di Jerman modern tidak sepenuhnya gratis. Pemerintah memang menanggung pendanaan, tetapi dapat sebagian dipenuhi oleh orang tua anak. Tergantung pada kebijakan otoritas lokal dan kemampuan ekonomi orang tua. Kebijakan ini juga berlaku untuk sekolah dasar hingga menengah atas.

Meski demikian, menganggap yang gratis-gratis menghambat perkembangan dunia pendidikan tidak selalu benar. Dalam konteks pendidikan tinggi, Jerman mampu menjadi salah satu negara dengan mutu pendidikan terbaik salah satunya dengan menggratiskan biaya kuliah. Tak hanya bagi warga Jerman asli, tetapi juga untuk mahasiswa dari luar negeri. Sebagian besar kampus di Jerman dikelola oleh negara. Hanya lima persennya yang dikelola swasta. Menurut catatan Barbara Kehm di Conversation, pada tahun 1976 keluar aturan pelarangan biaya kuliah di Jerman Barat. Ini adalah hasil dari berkuasanya Partai Sosial Demokrat (SPD).

Pada pemerintahan koalisi konservatif dan liberal era 1980-an muncul ide pengembalian kebijakan biaya kuliah. Sempat terjadi kebuntuan, sebab pemerintah negara bagian akan mengurangi pendanaan rutin mereka ke universitas. Kebijakan larangan biaya kuliah berlaku hingga runtuhnya Tembok Berlin dan penyatuan Jerman pada awal 1990-an.  Pada pertengahan 1990-an wacana penerapan biaya kuliah kembali mengemuka dengan alasan untuk menanggulangi sejumlah permasalahan di sektor pendidikan tinggi, khususnya beban “mahasiswa abadi” alias yang tak lulus-lulus atau lulus terlalu lama.

Pemerintah konservatif memulai upayanya pada 2002. Pada 2005 mereka berhasil. Sesuai Pengadilan Konstitusional Federal, Jerman mulai mengenakan biaya kuliah di tujuh negara bagian. Nominalnya sekitar 500 euro per semester. Kebijakan ini diprotes oleh mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan dalam jumlah besar. Mereka mampu mengumpulkan 70.000 petisi melawan biaya kuliah. Tekanan kepada pembuat kebijakan makin besar sebab partai-partai yang mendukung biaya kuliah dan menggunakannya selama kampanye ternyata kalah di pemilu. Pemerintah Jerman akhirnya luluh. Pemerintah negara bagian Hessen adalah yang pertama membatalkan kebijakan biaya kuliah pada 2008. Lainnya berangsur-angsur mengikuti langkah ini. Bavaria pada 2013 dan Lower Saxony pada 2014 adalah dua negara bagian terakhir yang menghapus biaya kuliah.

Pemerintah menanggung biaya kuliah dengan penerapan pajak yang tinggi—sebagaimana diberlakukan di banyak negara Eropa. Dengan demikian gratis yang dimaksud Muhadjir di awal adalah mengandaikan negara lepas tangan. Padahal gratis yang diterapkan Jerman adalah dengan mengelola serta membiayai sebagian besar biaya institusi pendidikannya melalui sumbangan warganya sendiri.

Dibandingkan anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lain yang mayoritas adalah negara ekonomi maju, rata-rata pajak warga Jerman tertinggi kedua setelah Belgia. Persentasenya mencapai 39,5 persen. Jauh dibandingkan Inggris misalnya, dengan 23,7 persen, atau rata-rata seluruh anggota OECD yakni 25,5 persen.

Dalam catatan BBC, melalui kebijakan pajak yang tinggi, pemerintah Jerman mengeluarkan biaya tinggi untuk riset. Pencapaian di bidang sains dan teknologi pun signifikan tak hanya untuk memajukan pendidikan, namun juga memberikan sumbangan untuk ekonomi negara. Jerman juga andal di bidang keterampilan pekerja. Menurut laporan LA Times, pangkal persoalannya adalah kondisi geografis Jerman yang luas tetapi kurang kaya secara sumber daya alam. Pemerintah berinvestasi besar untuk memajukan vokasi. Ekonomi negara juga tumbuh sebab institusi pendidikannya mampu melahirkan para pekerja yang terampil. Ada banyak lulusan yang memilih untuk lanjut di sekolah vokasi. Hal ini menyebabkan jumlah mahasiswa Jerman tidak sebanyak di Amerika Serikat.

Kembali mengutip data OECD, hanya 30 persen warga Jerman usia 25-34 yang menyelesaikan perguruan tinggi. Angka ini di bawah AS yakni 45 persen atau bahkan rata-rata negara OECD. Meski lebih sedikit, keseriusan pemerintah dalam mengelola sekolah vokasi tidak diragukan lagi. Apalagi perusahaan-perusahaan juga turut berinvestasi sebab berpengaruh terhadap produktivitas jangka panjang karyawannya. Berbeda dengan di negara-negara lain di mana lulusan kuliah yang ahli di bidang teori lebih dihormati. Di Jerman, lulusan sekolah vokasi yang jago di ranah keterampilan juga mendapat penghormatan yang setara.

Kendati sudah bekerja, banyak orang masih bersemangat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, karena menyandang gelar pendidikan tinggi jadi jaminan lebih dalam karier. Ya, setelah memiliki penghasilan, banyak orang berusaha melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tak puas hanya mengantungi gelar strata 1 (S1), mereka ingin lebih ke jenjang master atau bahkan jenjang doktor. Namun, banyak juga yang tak mau melanjutkan pendidikan dengan biaya sendiri. Mereka pun mengulik berbagai peluang meraih beasiswa. Beasiswa, salah satu yang jadi buruan.

Saat ini, Anda bisa menemukan banyak sekali kesempatan beasiswa yang ditawarkan oleh institusi pendidikan, pemerintah, universitas, bahkan perusahaan. Beasiswa yang ditawarkan pun beragam, mulai dari beasiswa parsial hingga beasiswa penuh untuk jenjang S1 (undergraduate degree), S2 (master degree), hingga S3 (doctoral degree). Namun, tanpa beasiswa pun, banyak sekali negara-negara yang sejak awal menyediakan pendidikan dengan biaya murah. Menariknya lagi, kendati murah namun tetap dengan kualitas pendidikan sangat tinggi.

Berikut adalah daftar negara di kawasan Eropa yang menggratiskan biaya kuliah tahun 2018:

1. Berlin, Jerman
Sejak dulu, Jerman memang menjadi tujuan kuliah populer. Berlin, ibukota Jerman, termasuk kota yang ramah pada pelajar pendatang. Banyak perguruan tinggi di Jerman punya reputasi sangat baik pada sikap toleran dan multikultural. Universitas itu termasuk Universitas Humboldt dan Universitas Teknik Berlin. Berlin juga menawarkan kuliah gratis bagi seluruh mahasiswa lokal maupun pendatang.
Jerman mulai menggratiskan biaya kuliah sejak tahun 2014 baik untuk mahasiswa asli Jerman maupun untuk mahasiswa internasional. Sebisa mungkin untuk tidak memilih universitas yang terletak di negara bagian Jerman seperti negara Federal Baden Wuttemberg, karena di negara bagian tersebut masih menerapakan biaya kuliah untuk berbagai gelar yang diambil. Biaya kuliah di universitas yang terletak di negara bagian yaitu 1.500 Euro per semesternya.

2. Wina, Austria
Austria menduduki peringkat pertama sebagai negara tersehat untuk pekerja asing. Salah satu universitas terbaik di Austria adalah The Vienna University di Wina. Kampus ini berdiri pada 1815 sebagai Imperial Royal Polytechnic Institute. Kampus menawarkan fasilitas terbaik dengan delapan fakultas yang tersedia. Fakultas tersebut antara lain Fakultas Perencanaan dan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil, Fakultas Teknik Industri dan Mekanik, Fakultas Teknik Elektro dan Teknologi Indormasi, Fakultas Matematika dan Geoinformasi, Fakultas Fisika, Fakultas Teknik Kimia, dan Fakultas Sistem Informasi. Serupa dengan Berlin, biaya kuliah di Wina gratis bagi semua mahasiswa asal Eropa. Untuk mahasiswa luar Eropa, dikenakan biaya kuliah terjangkau sebesar 500 dollar AS per tahun.
Austria membebaskan kuliah di universitas negeri kepada mahasiswa internasional yang berasal dari negara terbelakang dan berkembang. Sedangkan untuk mahasiswa dari non UE dan EEA dikenakan biaya kuliah sebesar 363,36 sampai 762,72 Euro. Mahasiswa yang berasal dari Eropa tengah dan Eropa dan mengajukan pengembalian biaya kuliah sesuai dengan peraturan masing-masing universitas.

3. Spanyol
Biaya pendidikan di negara matador ini sangat terjangkau. Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 15 jutaan per tahunnya. Biaya hidup di Spanyol juga cukup bersahabat, sekitar Rp 7 juta per bulan. Jika ditotal, biaya yang harus dikeluarkan tak lebih dari Rp 84 juta per tahun.

4. Prancis
Negara ini identik dengan biaya hidup mahal. Namun, fakta berkata lain. Jika berniat melanjutkan kuliah di negeri ini, kamu butuh biaya hidup sekitar 300 sampai 500 Euro (Rp 5-8 jutaan) per bulan. Kuliah pun sangat terjangkau, sekitar Rp 5 jutaan per tahun.

5. Taiwan
Untuk wilayah Asia, Taiwan menjadi kota paling tepat untuk melanjutkan kuliah. Di sini, Anda butuh USD 3.800 (Rp 52 jutaan) untuk masuk ke salah satu universitas terbaik di sana. Taiwan juga memberi kesempatan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi. Artinya, Anda bisa menempuh pendidikan di sana dengan sejumlah biaya yang jauh lebih rendah, atau bahkan gratis. Beberapa kampus terbaik di Taiwan adalah Chaoyang University of Technology, China Medical University, Chung Shan Medical University, National Changhua University of Education ataupun National Chin-Yi University of Technology.

6. Norwegia
Norwegia merupakan negara yang tidak membebankan biaya kuliah baik kepada mahasiswa asli Norwegia maupun mahasiswa internasional yang mengambil gelar sarjana, master, dan PhD. Mahasiswa hanya membayar biaya semester sebesar NOK 300-600. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa ada beberapa program khusus yang ada di Universitas negeri maupun swasta masih membebankan biaya kuliah dan kebanyakan berada pada jenjang master. Meskipun begitu dapat dipastikan bahwa biaya kuliah program khusus di universitas swasta yang ada di Norwegia lebih murah dibandingkan dengan negara lainnya.

7. Finlandia
Finlandia adalah negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Negara ini menggratiskan biaya kuliah hanya untuk program doktoral atau PhD baik untuk mahasiswa Finlandia maupun untuk mahasiswa internasional. Biaya kuliah untuk sarjana dan master mulai ditepakan sejak tahun 2017, biaya tersebut tersebut dapat tertutupi jika terdaftar sebagai penerima beasiswa UAS.

8. Swedia
Swedia menggratiskan biaya kuliah bagi mahasiswa yang berasal dari Swiss, UE, EEA yang menempuh gelar sarjana dan master. Sedangkan untuk mahasiswa internasional dikenakan biaya kuliah, namun biaya kuliah tersebut dapat ditutupi dengan menjadi penerima beasiswa penuh dan parsial yang disediakan oleh  sejumlah universitas di Swedia. Mahasiswa PhD di Swedia tidak dikenakan biaya kuliah dan mendapatkan gaji bulanan.

Dalam channel YouTube Viancqa Kurniawan, Wormtraders menemukan sesosok gadis yang memberikan motivasi untuk berkuliah di luar negeri. Merantau jauh dari Riau, Viancqa berkuliah di Jurusan Financial Economics Universitas Coventry, Inggris, selepas lulus SMA. Dalam vlog-nya yang berdurasi 10 menit ini, ia banyak membagikan tips persiapan dan pengalaman kuliah di Inggris. Menurutnya, sebelum memutuskan kuliah di luar negeri, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jurusan.
“Seberat apapun kuliah Anda, Anda tak akan menjadikannya beban kalau Anda benar-benar mempelajari apa yang kamu suka. Kalian harus tentukan kalian mau belajar apa dulu. Apa yang mau kalian tekuni. Kalian mau jadi expert di bidang apa,” ungkap Viancqa.

Setelah menentukan jurusan, Anda perlu mencari tahu apa saja kualifikasi dan dokumen yang disyaratkan oleh universitas. Persiapkan Anda untuk memenuhi seluruh persyaratan, seperti nilai ujian, tes bahasa Inggris hingga biaya di universitas tujuan. Browsing, mendatangi pameran pendidikan, hingga berdiskusi dengan keluarga adalah cara yang dilakukan Viancqa untuk menentukan universitas. Selain karena menyediakan jurusan yang diinginkannya, alasan kenapa Viancqa berkuliah di Coventry adalah biaya yang tidak terlalu mahal dibandingkan universitas lainnya. Kebetulan dari segi biaya, Coventry itu paling reasonable menurutnya dan keluarga. Masih mahal tapi enggak semahal kalau kamu ke Imperial College atau ke Oxford atau ke Manchester.

Banyak orang akhirnya memutuskan untuk menunda atau tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena mahalnya biaya kuliah. Dalam mengatasi permasalah tersebut ada beberapa negara di dunia yang membuat kebijkan menggratiskan biaya kuliah di sejumlah universitas di negaranya, sehingga akan lebih banyak lagi masyarakat di negaranya atau dari negara lain yang memiliki kesempatan untuk dapat melanjutkan studi.

Nyatanya, biaya kuliah kini semakin mahal. Berikut 10 universitas termahal di dunia yang tentunya berkualitas:

1. Nanyang Technological University, Singapore
Sarjana: SG$17.450 – SG$72.100 (Rp174,5 juta – Rp721 juta) 1SG$ = Rp10.000
Pascasarjana: SG$16.700 (Rp167 juta)
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Nanyang Technological University atau biasa disingkat NTU merupakan salah satu universitas terbaik di dunia. NTU sendiri didirikan pada tahun 1991 setelah Nanyang Technology Institute bergabung dengan National Institute of Education. Pada QS World University Rankings by Subject terbaru, NTU memiliki 19 program studi yang berhasil memasuki peringkat 50 terbaik. Termasuk di antaranya adalah Kimia, Akuntansi dan Keuangan, Bisnis & Manajemen and Teknik Kimia. Mereka juga menduduki peringkat pertama dalam program studi Teknik Elektro and Ilmu Pengetahuan Material.

2. University of Oxford, UK
Sarjana: £23.105 – £30.540 (Rp415,9 juta – Rp549,7 juta) 1£ = Rp18.000
Pascasarjana: £9.391 – £22.356 (Rp169 juta – Rp402,4 juta)
Sebagai bagian dari ‘Oxbridge’, University of Oxford merupakan universitas tertua yang menggunakan bahasa Inggris, dan disebut telah berdiri 1096.
Sejak saat itulah, 27 Perdana Menteri British, 1 Presiden US, dan sedikitnya 30 pemimpin dunia mengemban ilmu disini.
Tidak hanya sampai disitu, 52 pemenang Nobel Prize dan 167 peraih medali Olympic telah memperoleh ilmunya disini. Dengan demikian, tidak aneh jika University of Oxford menjadi salah satu universitas terbaik di dunia secara konsisten.

3. UCL (University College London), UK
Sarjana: £17.710 – £23.710 (Rp318,8 juta – Rp426,8 juta) 1£ = Rp18.000
Pascasarjana: £20.540 – £24.610 (Rp369,7 juta – Rp442,9 juta)
Berdiri sejak tahun 1826 dengan nama London University, UCL menjadi universitas dan institusi pertama yang didirikan di London, dan juga menjadi yang pertama di Inggris.
Merupakan universitas tertua ketiga dan terbesar ketiga di seluruh Inggris. (setelah Open University in England dan the University of Manchester).
Beberapa alumni UCL yang ternama adalah Mahatma Gandhi (pemimpin gerakan kemerdekaan India), Alexander Graham Bell (penemu telepon), Francis Crick (salah satu penemu struktur DNA), dan Chris Martin (penyanyi utama dari Coldplay).

4. Imperial College London, UK
Sarjana: £27.750 (Rp449,5 juta) 1£ = Rp18.000
Pascasarjana: £28.200 – £29.000 (Rp507,6 juta – Rp522 juta)
Didirikan oleh Pangeran Albert, Imperial College London diberi gelar Royal Charter pada tahun 1907. Universitas ini mencakup beberapa program studi seperti contohnya Fakultas Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Farmasi dan Fakultas MIPA, dan masih banyak lagi.
Sekolah medisnya menduduki peringkat ketiga terbaik di dunia pada Times Higher Education University Rankings tahun 2015, dengan lebih dari 2.000 pendaftar setiap tahunnya. Sayangnya, hanya 20% dari seluruh pendaftar yang akan diterima.
Beberapa staf dan alumninya termasuk 15 pemenang Nobel Prize (termasuk Sir Alexander Fleming dan HG Wells), 2 Fields Medalists, 82 Fellows of the Royal Academy of Engineering, dan 78 Fellows of the Academy of Medical Sciences.

5. University of Cambridge, UK
Sarjana: £19.197 – £29.217 (Rp455 juta – Rp525,9 juta) 1£ = Rp18.000
Pascasarjana: £21.600 – £29.769 (Rp388,8 juta – Rp535,8 juta)
Bagian lainnya dari ‘Oxbridge’, yaitu University of Cambridge. Universitas ini merupakan yang tertua kedua di seluruh dunia setelah Oxford sehingga keduanya memiliki banyak kesamaan.
Didirikan sejak tahun 1209 dan memperoleh gelar Royal Charter dari King Henry III pada tahun 1231, Universitas ini juga merupakan salah satu yang paling sulit pendaftarannya. Hanya 33,8% dari 16.795 pendaftar yang berhasil diterima.
Tetapi apabila buah hati Anda berhasil masuk dan lulus dari University of Cambridge, maka secara otomatis ia akan tergabung dalam alumni Cambridge.
Anak Anda bisa menjadi alumni seperti theoretical physicist Stephen Hawking, naturalist Charles Darwin, 15 perdana menteri British (termasuk Robert Walpole) dan 9 anggota kerajaan (termasuk Charles, Prince of Wales dan Queen Margrethe II of Denmark).

6. Harvard University, USA
Sarjana: US$44.990 (Rp607,4 juta) 1US$ = Rp13.500
Pascasarjana: US$11.258 – US$43.296 (Rp151,9 juta – Rp585 juta)
Harvard mungkin adalah salah satu universitas paling terkenal dan mewah di Amerika. Kabar baiknya adalah ini bukan hanya disebabkan universitas ini pernah menjadi latar belakang untuk film Legally Blonde.
Didirikan sejak dahulu kala pada tahun 1636, Harvard menjadi universitas tertua di negaranya. Universitas ini terbagi menjadi 11 subjek atau jurusan, di antaranya adalah Harvard Business School (sekolah bisnis), Harvard Medical School (sekolah farmasi), dan Harvard School of Dental Medicine (sekolah kedokteran gigi), yang kerap disebut-sebut sebagai sekolah pendidikan gigi terbaik di dunia.
Alumni Harvard pun tidak kalah menarik, termasuk di dalamnya adalah 8 presiden US (termasuk Barack Obama dan Theodore Roosevelt), 62 miliarder terkenal (termasuk Mark Zuckerberg, yang keluar sebelum kelulusannya demi mengembangkan Facebook), dan 359 Rhodes Scholars termasuk 242 Marshall Scholars.

7. University of Chicago, USA
Sarjana: US$53.292 (Rp719,5 juta) 1US$ = Rp13.500
Pascasarjana: US$47.802 (Rp645,3 juta)
Berdiri sejak tahun 1890, University of Chicago secara konsisten memegang ranking 10 teratas dalam berbagai ranking nasional maupun internasional.
Hal ini dapat terjadi karena keahliannya dalam mengelola berbagai program pascasarjana, dan komite interdisciplinary committees yang terbagi menjadi lima divisi penelitian akademik dan tujuh sekolah profesional.
Sebanyak 91 pemenang Nobel Prize pernah menimba ilmu disini, termasuk aktor archaeologist Indiana Jones dan X-Men Kitty Pryde.

8. California Institute of Technology (Caltech), USA
Sarjana: US$48.111 (Rp866 juta) + US$1.797 (Rp24,25 juta) biaya registrasi, 1US$ = Rp13.500
Pascasarjana: US$48.111 (Rp649,5 juta) + US$1.605 (Rp21,66 juta) biaya registrasi
Didirikan sebagai sekolah persuapan oleh Amos G. Throop pada tahun 1891, Caltech sering disebut sebagai salah satu universitas terbaik di dunia. Selain itu, Caltech juga menjadi salah satu universitas di Amerika yang didedikasikan sebagai pionir technical arts dan applied sciences. Di samping reputasinya sebagai universitas ternama dalam program studi ilmu pengetahuan alam, teknik dan pendidikan, Caltech juga terkenal akibat tradisinya dalam lelucon dan humor. Dua contoh dari lelucon yang terkenal dari Caltech adalah perubahan logo Hollywood menjadi ‘CALTECH’ pada tahun 1987 dan perubahan tulisan pada scoreboard 1984 Rose Bowl Game menjadi ‘Caltech 38, MIT 9’.

9. Massachusetts Institute of Technology (MIT), USA
Sarjana dan Pascasarjana: US$49.580 (Rp669,33 juta) 1US$ = Rp13.500
Massachusetts Institute of Technology didirikan sejak tahun 1861 sebagai tanggapan dari perkembangan industri di Amerika. Universitas ini terkenal akan penemuan-penemuan dan riset yang dilakukannya physical sciences (ilmu fisika) and engineering (teknik). Baru-baru ini, Massachusetts Institute of Technology merambah ke program studi biologi, ekonomi, linguistik dan manajemen. Alumninya juga luar biasa, karena mencakup 85 pemenang Nobel Prize, 45 Rhodes Scholars dan 34 astronot.

10. Stanford University, USA
Sarjana: US$15.777 – US$48.987 (Rp212,98 juta – Rp661,32 juta) 1US$ = Rp13.500
Pascasarjana: US$48.987 – US$52.188 (Rp661,32 juta – Rp704,54 juta)
Didirikan sejak tahun 1885, Stanford University (resmi: Leland Stanford Junior University, sebagai penghormatan kepada pendirinya putra tunggal Leland dan Jane Stanford) merupakan universitas termahal di dunia.

Biaya kuliah di universitas tersohor di dunia itu memang mahal. Hingga tidak heran, jika Student loan atau utang uang sekolah kini memang terbukti menjadi salah satu utang konsumen terbesar di Amerika, utang uang sekolah sudah menjadi utang konsumen tertinggi kedua setelah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). New York Federal Reserve menunjukkan statistik utang uang sekolah per 2016 adalah sebagai berikut:


Berminat kuliah di luar negeri? Pelajari dulu trik bagaimana bisa kuliah di tempat tujuan tersebut. Jika mungkin, tanpa harus mengeluarkan biaya dari dompet sendiri. Sebelum membayar sejumlah besar uang, ketahui dulu fakta-fakta dan informasi yang mempengaruhi keputusan tersebut.

Biaya pendidikan yang semakin tinggi ini menuntut orangtua atau pelajar untuk mengandalkan pinjaman untuk membiayai uang sekolah. Karena KURANGNYA INFORMASI mengenai perencanaan keuangan, banyak yang mencari solusi cepat dan mudah dengan mengajukan pinjaman, misalnya Kredit Tanpa Agunan (KTA). Namun, suku bunga KTA umumnya cukup tinggi, berada di kisaran 10,5% hingga 36% per tahunnya.

Student loan atau utang uang sekolah kini memang terbukti menjadi salah satu utang konsumen terbesar. Di Amerika, utang uang sekolah sudah menjadi utang konsumen tertinggi kedua setelah Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Oleh karena itu, Rencanakan Dana Pendidikan dari awal. Selalu rencanakan dan mengonsultasikan rencana dana pendidikan anak dengan matang. Persiapkan sejak dini dan Anda tidak perlu mengandalkan pinjaman atau utang!

Semoga bermanfaat.

Sumber :


KABAR TEMAN

ARSIP

*** TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG *** SEMOGA BERMANFAAT *** SILAHKAN DATANG KEMBALI ***
Komunitas Pendidikan Indonesia. Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.
Hai, Kami Juga Hadir di Twitter, like it - @iKOMPI25
Kirim Surat